SEARCH
Your address will show here +12 34 56 78
Event, Lates News, Student Corner

Tidak sah rasanya ke Malang tanpa mengunjungi tempat-tempat wisata ‘wajib’nya.
Kemanakah rombongan Field Trip menjelajah pada hari ke-6 dan ke-7? 


Kemana lagi selain ke Jatim Park I, Jatim Park II, Jatim Park III dan Museum Angkut. Bukan, bukan sehari langsung ke 3 lokasi ini.Hari ke-6 adalah hari bebas, jadi ada sebagian kelompok yang memilih lokasi lain dan ada juga sekelompok yang begitu bahagia menghabiskan waktu seharian di Jatim Park II.


Lanjut…

Nah, kabarnya sekelompok generasi pemakmur bumi puas sekali menjelajahi lokasi seluas 14 hektar di Jatim Park 2 atau yang juga dikenal Batu Secret Zoo ini. Sesuai namanya, disini pengunjung bisa melihat berbagai satwa dari berbagai habitat. Masya Allah, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya mengizinkan para satwa ini bisa tetap hidup diluar habitat aslinya. Tidak lupa, ada sejumlah wahana yang seru untuk dijelajahi bersama teman disini.


Keesokan harinya menjelajah ke Jatim Park I tak kalah seru karena sudah full team. Disana, adik-adik belajar tentang suku dan kebudayaan Indonesia, sejarah, dan menikmati wahana permainan yang cukup menantang. Permainan seru usia remaja adalah permainan yang berhasil mengocok perut 🥴 Mamak-mamak macam minweb silakan melipir istirahat.


Puas di Jatim Park, lanjut ke Museum Angkut. Rayhan (kelas IX) cukup menikmati kunjungan ke museum ini. “Saya suka mobil-mobilnya“.


Museum Angkut ini memamerkan beraneka ragam alat transportasi kuno dan modern, bukan hanya mobil. Ada juga kendaraan lainnya. Allah berikan kemampuan berupa ilmu kepada manusia untuk merakit ratusan kendaraan yang ada disini, sebagai tanda kebesaran-Nya untuk kita bersyukur dan terus menempa diri agar juga bisa menghasilkan karya yang bermanfaat. Insyaa Allah.
0

Artikel, Event, Lates News

Penginapan pertama yang terpilih pada perjalanan menjelajah Malang ini bukan sekadar penginapan biasa. Kalau tidak biasa, berarti istimewa dong?


Penginapan bukan sekadar tempat menumpang istirahat, Petungsewu Wildlife Education Center  (P-WEC, dibaca ‘piwek’) ini merupakan lembaga training centre pendidikan tentang konservasi alam dan outbound. Jadi sekalian numpang istirahat, rombongan field trip juga berkesempatan mengikuti pelatihan singkat lebih dekat dengan alam.


Pada hari ke-5 Field Trip, berlokasi di P-WEC ini, adik-adik mengikuti sejumlah permainan outbound yang seru.  ‘Peluang’ (pemuda petualang) belajar mengenal pohon, bentuk daun, dan menghitung tinggi pohon. Secara berkelompok mereka menggambar manfaat sungai, secara tidak langsung diajak mensyukuri nikmat Allah berupa sungai agar terus dijaga. 


Salah satu permainannya adalah adik-adik diberikan daun untuk dicari pohonnya. Setelah pohonnya ketemu, masing-masing kelompok diminta menghitung tinggi pohon dengan melangkah 11 kali ditambah 1, lali berbaring di atas tanah untuk memperkirakan tinggi pohon dengan bambu.


 Belajar di alam selalu menyenangkan bagi anak sekolah alam, bukan?

0

Artikel, Event, Lates News

Pagi hari di stasiun, waktunya melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Rombongan SA Le Cendekia siap menjelajahi kota Malang! Tiga jam naik kereta bukan waktu yang singkat, “pemulang” (pemuda petualang) wajib menikmatinya karena ada banyak tujuan menarik siap untuk dijelajahi disana.


San Tera de Laponte menjadi tujuan utama setibanya rombongan di Malang. Tempat wisata apakah ini? Mengapa namanya semacam berada di Eropa sana?


Ternyata, benar! Disana banyak replika bangunan ala eropa, dibuat sebagai spot foto agar pengunjung seperti terlihat berada di Eropa sana. Menikmati pemandangan indahnya bunga berwarna-warni pada lokasi yang cukup luas menjadi tujuan utama ke flora wisata ini. Adik-adik ‘peluang’ jadi banyak mengenal jenis bunga ciptaan Allah. 


Dengan waktu yang terbatas, adik-adik dan kakak guru memanfaatkannya dengan mengambil gambar pada banyak titik yang pas. Peserta dengan cadangan energi cukup banyak sih, tetap kuat mencoba wahana yang ada. Mengingat perjalanan dari Surabaya tadi cukup melelahkan.


Wah, tidak perlu jauh-jauh ke benua nun jauh disana lagi nih kalau cuma buat foto-foto.

0

Artikel, Event, Lates News

Rombongan tiba di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya lebih cepat dari perkiraan membuat rencana perjalanan menjadi tidak sesuai. Bagaimana tidak, kapal diperkirakan tiba keesokan harinya (perkiraan 32-36 jam menjadi hanya 25 jam). Kakak guru penanggung jawab harus melakukan gerak cepat mencari penginapan agar pemuda-pemudi petualang bisa mendapat tempat nyaman beristirahat setelah perjalanan panjangnya membelah lautan.


Perjalanan laut memang agak tricky ya, belum lagi jadwal pemberangkatan kapal yang sedianya tanggal 24 Juni, dimajukan sehari ke 23 Juni dengan pemberitahuan pada 3 hari sebelum berangkat. Minweb yakin, kakak guru penanggung jawab mesti pening kepalanya mengatur perjalanan ini. Belum lagi, tidak sempat melakukan cek lokasi sebelum membawa rombongan segini banyak. Meski kepala pening, tentu saja menantang. They made it. Salut!

Well, jadilah hari pertama menjadi pengalaman tak terencana. Rombongan mengunjungi Monumen Kapal Selam, sebuah museum dari kapal selam sungguhan yang berlokasi di pusat Kota Surabaya. Wisata pendidikan ini menjadi seru, adik-adik bisa menyaksikan interior kapal selam, mencoba berbagai fasilitas di dalamnya, juga mendapat pengetahuan tentang sejarah peperangan di Laut Aru, dimana kapal selam ini turut serta dalam proses pertempuran membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda.


Uniknya, dari museum ini terdapat akses menuju Tunjungan Plaza Surabaya. Para petualang pun melanjutkan petualangannya ke dalam pusat perbelanjaan besar ini. Baru hari pertama sudah belanja apa saja nih adik-adik? Hihi. Ada yang berburu buku, pakaian, bahkan menambah koleksi hotwheels-nya di TP ini. Dawi,peserta Field Trip kelas VIII, menyayangkan kunjungan ke TP ini diawal field trip karena tidak bisa bebas berbelanja. Karena mesti berhemat, masih akan banyak cobaan jajan pada destinasi selanjutnya. Hihi.


Hari yang cukup melelahkan tentunya menaklukkan Tunjungan Plaza yang sangat luas, mengingat waktu istirahat yang terbatas malam tadi. Setelah puas berjalan-jalan, waktunya merebahkan badan untuk mempersiapkan tubuh menuju ke Kota Malang esok hari.

0

Artikel, Event, Lates News

Pertanyaan pertama yang mungkin akan muncul, mengapa memilih klenteng untuk dikunjungi oleh peserta #eduwisatagowamakassar2023 kali ini?

Datangnya kelompok etnis Tionghoa ke Makassar (dulu Ujung Pandang) tentu mengambil peran yang cukup erat dalam pembangunan Makassar sebagai kota terbesar di kawasan Indonesia Timur saat ini. Kawasan Pecinan menjadi pusat perniagaan yang menjadi cikal bakal Makassar menjadi sebuah kota. Mengunjungi Klenteng sebagai tempat peribadatan kelompok etnis ini diharapkan mampu membuka wawasan adik-adik mengenai sejarah Makassar, terkhusus Klenteng Xian Ma..

Mengunjungi Klenteng ini benar membuka mata peserta kunjungan mengenai tempat peribadatan yang terdiri 5 lantai ini. Adik-adik diperbolehkan masuk, bisa melihat-lihat area dalam klenteng dan mengambil gambar. Namun tidak mendapat kesempatan untuk menggali informasi dari siapapun di sana. Meski tidak bisa mendapat narasumber atas pertanyaan-pertanyaan mereka, adik-adik tetap bersemangat mengamati gedung.


Jadilah sekelompok gadis-gadis yang didampingi oleh kakak guru mengeskplor bangunan megah dengan warna merah khas ini tanpa pemandu dan membawa pulang pertanyaan yang tak terjawab. Syukurnya, mereka bisa mendapat informasi dari petunjuk berupa tulisan pada bagian-bagian tertentu termasuk nama-nama dewa dan nama ruangan-ruangannya.  


Sebagai gambaran, gedung peribadatan ini terdiri dari 5 lantai. Lantai 1 sampai lantai 3 terdapat tempat sembahyang, lantai 4 terdiri dari ruang perpustakaan, ruang pertemuan, dan dapur kecil. Di lantai 5, patung-patung yang ada berukuran lebih besar. Dari sini, adik-adik mendapat kesempatan melihat Makassar dari ketinggian. Karena lokasinya dekat dengan pelabuhan, maka pemandangan dari atas adalah kapal-kapal dan hamparan laut luas. Masya Allah, ini sepertinya bonus tak terduga.


Seperti yang minweb sampaikan diawal cerita perjalanan eduwisata ini, tentu akan banyak pengalaman yang menjadi pelajaran bagi seluruh peserta. Alhamdulillah..

0

Artikel, Event, Lates News
Bagaimanakah cara terbaik mengenal seseorang?
Tentu dengan berkenalan, bertukar cerita, serta pengalaman bersamanya. 

Bagaimanakah cara terbaik mengenal suatu tempat?
Tentu dengan berkunjung langsung ke tempat tersebut, menggali informasi dari yang benar-benar mengenalnya.

Ayo warga Gowa dan Makassar, sudahkah berkunjung ke tempat-tempat sarat akan sejarah dan mengenalnya lebih dekat?

Pengembara muda siap menginjakkan kaki di beberapa tempat sekitar Gowa dan Makassar. Mereka adalah 22 siswa-siswi Le Cendekia yang memilih melakukan pengembaraannya mengenal sejarah perjalanan bangsa sebagai ikhtiar mentadabburi kebesaran Sang Maha Kuasa. Dalam Eduwisata Gowa Makassar ini muda-mudi SALC mendapatkan pengalaman dan pemahaman baru yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Bisa jadi, tempat yang mereka kunjungi adalah tempat yang sering dilewati tapi tidak disinggahi. Atau bisa jadi merupakan tempat yang tidak ada dalam daftar tempat yang perlu mereka kunjungi selama hidup. Namun bukankah semua tempat adalah sekolah?

Tujuan terpilih dalam trip kali ini adalah tempat bersejarah di sekitaran Kota Sungguminasa dan Makassar, yaitu Fort Rotterdam, Museum Kota Makassar, Masjid Katangka Gowa, Balla Lompoa, dan Klenteng Xian Ma. Bagaimanakah perjalanan seru adik-adik petualang ini berlangsung? Nantikan keseruan mereka dalam #ceritafieldtripgowamakassar ya.

See yaa
0

Artikel, Event, Lates News
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaq ‘alaih).

Yang tak pernah ketinggalan pada setiap bulan Ramadhan adalah berbagi hasil belajar kepada warga sekitar.  Dari tahun ke tahun, siswa siswi Le Cendekia belajar menyiapkan hampers sendiri. Kali ini mereka membuat sirop dari Bunga Telang dan kue kering untuk dibagikan.

Proses belajar yang dialami oleh peserta didik diharapkan bukan hanya didapatkan di dalam ruang kelas dari kurikulum terbatas. Kami berharap Le Cendekia menjadi tempat belajar dengan menjadikan sebuah proses, bagaimana pun bentuk serta dimanapun lokasinya siswa-siswi kami bisa belajar.

Pembuatan kue kering dan sirop sebagai isian bingkisan kepada warga setempat pun menjadi sebuah proses pembelajaran besar bagi generasi pemakmur bumi ini. Bukan sekadar belajar membuatnya, namun juga belajar bekerja sama menjalani peran masing-masing dalam mempersiapkan bahan dan peralatan yang dibutuhkan hingga mengantarkannya langsung kepada tetangga.

Adik-adik memaknai proses pembuatan kue kering mulai dari menakar bahan yang diperlukan, membuat adonan kue, membentuk dan menghias adonannya, kemudian ada juga yang mengambil peran menyiapkan oven dan bertugas dalam proses pemanggangannya. Setelah matang, kue ditata dalam toples lalu diberi label kemasan. Begitu pun dengan pembuatan sirop bunga telang, dari panen bunga hingga memasang label kemasan, kami harap siswa menyerap belajarnya.


Setelah siap, kegiatan mengantarkan langsung bingkisan keberkahan Ramadhan ini menjadi proses yang mengharukan. Ketika para pemuda-pemudi ini menyaksikan langsung senyum dan haru dari penerima bingkisan, semoga menghadirkan rasa indahnya berbagi hingga menjadikan kebiasaan baik bagi mereka dimasa depan untuk selalu ringan tangan berbagi kepada sekitar terlebih bagi yang membutuhkan. 

Aaamiiin. Semoga Allah berkahi aktivitas berbagi ini ya adik-adik.
0

Artikel, Event, Lates News
Berkemah identik dengan latihan fisik disertai cuaca panas yang menyebabkan kebutuhan cairan tubuh juga meningkat. Begitulah pengalaman minweb saat usia sekolah. Ternyata di Sekolah Alam Le Cendekia, paradigma ini perlahan digantikan dengan semangat mendulang pahala di bulan Ramadhan. Pahala kebaikan dilipatgandakan, termasuk pahala menuntut ilmu Insya Allah.


Pada tanggal 9 – 11 April 2023, berlokasi di kampus Sekolah Alam Le Cendekia, Macca Education (sebuah lembaga pendidikan Bahasa Inggris di Kota Makassar) mengadakan English Camp bagi siswa SMP/ SMA sederajat. Kegiatan kerja sama ini bertajuk Le Macca Youth Camp, yaitu kegiatan rekreasi di luar ruangan yang bertujuan untuk membiasakan penggunaan Bahasa Inggris di muka umum yang dikemas dalam bentuk staycation event.


Tenda-tenda dibangun di halaman sekolah untuk menciptakan suasana menyenangkan selama kegiatan. Konsepnya, para peserta beristirahat malam di kemah secara berkelompok dan mengikuti kegiatan di halaman maupun koridor sekolah sepanjang hari. Kegiatannya pun dikemas dengan menarik berupa permainan-permainan yang memantik peserta untuk bersemangat belajar berbahasa Inggris.

Le Macca Youth Camp ini diikuti bukan hanya oleh seluruh siswa Le Cendekia yang juga mengisi aktivitas Ramadhannya di asrama, namun ada juga peserta lain dari SMA Negeri 17 Makassar dan MTsN 1 Makassar. Hafidz, salah seorang peserta camp mengaku “I am tired but it is really fun. I like it.” Alhamdulillah, keseruan event ini mengalahkan kelelahannya.


NAGIH!

Sebagaian besar respon peserta ingin kegiatan seperti ini sering-sering diadakan. Akhirnya mereka mengakui bahwa belajar Bahasa Inggris mudah dan menyenangkan. Kegiatan apa sajakah yang membuat anak muda ini tidak bisa move on? Minweb jadi penasaran :”) Kita intip melalui foto yang bercerita di bawah, yuk.










Alhamdulillah. What a great weekend! Seru sekali ternyata belajar Bahasa Inggirs. Besok-besok, alumni English Camp melanjutkan ‘camp’ ini di asrama ya.
0

Artikel, Event, Lates News, Student Corner
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath Tabrani)

Generasi pemakmur bumi dari Sekolah Alam Le Cendekia Boarding School kembali hadir di tengah-tengah murid sekolah dasar untuk mencoba membagikan pengetahuan yang dimilikinya. Sekolah Dasar yang bersedia menerima program Le Menginspirasi pada momen berbagi di bulan Ramadhan kali ini adalah UPT SD Negeri Bontokamase, Kabupaten Gowa. 

Adik-adik siswa berbagi pengalaman sesuai dengan bidang peminatannya di kelas PKBM, yaitu Agroteknologi, Videografi – Fotografi, Crafting – Lettering, dan Menulis. Masya Allah, ternyata tidak perlu menunggu memiliki profesi tertentu untuk berbagi seperti kegiatan kerelawanan berbagi inspirasi. Siswa SMP dan SMA kami melakukannya. 

Siswa dari kelas Agroteknologi mengenalkan bunga rosella dan bunga telang kepada siswa SD Negeri Bontokamase. Mereka juga berbagi pengalaman bagaimana mereka mengolah bunga ini menjadi makanan ataupun minuman yang bukan hanya menarik, tapi juga sehat karena bersumber dari bahan alami. Wah, adik-adik SD yang belum tahu jenis bunga ini, bisa mencobanya juga di rumah.

Adik-adik SD juga diajarkan teknik-teknik pengambilan gambar menggunakan handphone oleh siswa-siswi pegiat kelas Fotografi dan Videografi. Setelah mengenalkan teknik pengambilan gambar, mereka juga berbagi tips dan trik dalam proses editing video. Masya Allah, semoga melahirkan kreator video yang profesional dari berbagai inspirasi ini deh.


Yang seru dari kelas Crafting adalah siswa SD diajak membuat aksesoris dari macrame. Dengan penuh ketelatenan, perwakilan kelas Crafting berbagi pengalaman cara membuat aksesoris macrame ini. Begitupun perwakilan kelas Lettering, mereka menyediakan alat bahan untuk menulis indah dan mengajak adik siswa SD untuk mencobanya. 

Dawi, siswa kelas VIII, salah seorang siswi yang sudah melahirkan karya berupa tulisannya dalam buku yang diterbitkan PKBM menulis juga berbagi pengalamannya dalam menulis. Ia bercerita pengalaman menulis dan kesenangannya dalam menulis. Alhamdulillah, salah satu gerakan menumbuhkan giat literasi ditunaikan oleh adik Dawi dan semoga bisa menginspirasi adik-adik SD yang turut menyimak. Aaamiiin.


Siswa menginspirasi siswa lainnya, menjadi ajang belajar kompleks bagi siswa-siswi kami. Dari kegiatan ini mereka bukan hanya belajar berbagai pengalaman, namun juga belajar mempersiapkan kegiatannya, belajar mempresentasikan pengalaman di depan orang banyak, serta belajar menjalin silaturrahim kepada masyarakat lebih luas. 


Terima kasih pihak UPT SD Negeri Bontokamase yang telah memberi peluang kepada adik-adik untuk berbagi pengalaman, semoga menjadi langkah silaturrahim yang tidak pernah putus yang diridhai oleh Allah. Aaamiin.
0

Artikel, Event, Lates News, Student Corner
Mengawali rangkaian cerita di asrama selama Ramadhan ini, minweb menginformasikan bahwa menu ifthar dan makan malam seluruh warga asrama berasal dari donatur yang baik hati menyediakan hidangan bagi pemuda pemudi yang berpuasa ini. Agar tidak kehilangan momentum masak-masak bersama yang rutin dilaksanakan di hari biasa saat mendapat piket memasak, maka satu hari ini diadakan lomba memasak sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Pada perlombaan ini, siswa dibagi menjadi 4 kelompok. Mereka diberikan tantangan untuk memasak menu iftar dan lauk makan malam untuk disantap oleh 12 orang. Sungguh menantang ya, artinya makanan tidak boleh gagal karena jika gagal maka ada 12 orang yang tidak bisa berbuka puasa. 


Catatan penting dalam lomba memasak kali ini adalah peserta dibatasi menggunakan maksimal 2 produk olahan saja. Artinya, bahan memasak yang diperlukan diwajibkan lebih banyak berasal dari bahan alami.  Kebiasaan-kebiasaan memasak kreatif dengan bahan alami perlu terus digalakkan mengingat telah banyaknya produk olahan yang tersedia di pasaran membuat penggunaan bahan alami kurang dilirik lagi.

Panitia perlombaan telah menyediakan pasar mini berisi bahan makanan yang dapat dibeli oleh para peserta dengan budget maksimal pembelian Rp 200.000,-. Bahan makanan tambahan yang peserta perlukan boleh dipetik langsung dari kebun sekolah, Le Keboon. Dengan waktu terbatas, peserta menentukan akan memasak menu apa dan mencatat bahan-bahan yang diperlukan kemudian memilih kebutuhannya segera dalam durasi singkat.

Perlombaan ini mengajak siswa mengimplementasikan 7 pilar cendekia. Sebelum bekerja dalam kelompok, mereka memahami dirinya akan mengambil peran sebagai apa yang mampu bekerja sama dengan teman sekelompoknya. Peserta membutuhkan kemampuan berkomunikasi dan mengambil keputusan dengan tepat, serta mampu mengambil hikmah dari langkah-langkah yang dilakukan selama proses memasak bersama teman.

Setelah selesai, peserta pun wajib mempresentasikan hasil masakannya dengan menarik. Alhamdulillah, hasil memasak siswa-siswi Le Cendekia terbilang selalu sukses memanjakan lidah seluruh warga.

Readers mau dimasakkan apa nih sama warga Le Cendekia?
0