Artikel, Event, Lates News
Momentum Ramadan bersama keluarga selalu membawa jejak rindu ketika kita sudah memiliki kehidupan sendiri yang jauh dari rumah. Begitu pula yang dirasakan oleh beberapa siswa kami yang menjalani hari-hari berpuasanya bersama keluarga (teman-teman dan kakak guru) di asrama. Namun, hanya pemuda pemudi tangguh yang mampu melaluinya.
Program Ramadhan di Le Cendekia menyajikan kegiatan yang berbeda pada bulan Ramadhan tahun ini. Siswa-siswi dijadwalkan berada di asrama selama 3 pekan tanpa pulang diakhir pekan sebagaimana jadwal biasanya. Duh, rindu rumah banget nggak tuh?

Ternyata hanya bayangan minweb saja. Coba pandangi wajah-wajah sumringah dari foto-foto mereka dibalik kamera pada tulisan-tulisan minweb selama bulan Ramadhan, bahagia bukan?

Kerja keras kakak guru nih, menjadikan hari-hari di asrama lebih menyenangkan. Masya Allah. Aktivitas apa sajakah yang berhasil membakar semangat mereka? Minweb paparkan dalam beberapa tulisan setelah postingan ini ya.
Check it out...







Akhir kata, Alhamdulillah pelaksanaan kelas uji coba untuk calon siswa telah terlaksana. Sampai bertemu di program seru lainnya.










Pelangi Nusantara diangkat sebagai tema Le Food Fest 2022. Warna-warni pangan yang tersebar di setiap titik bumi Indonesia menandakan kekayaan pangan negeri kita. Kaya warna, tentu saja kaya manfaat karena setiap warna pada makanan mempresentasikan kandungan yang dimilikinya. Saat makanan tersaji di hadapan kita, indra pertama yang merespon adalah penglihatan. Jika yang tersaji adalah makanan yang tertata rapi dengan warna-warni yang memanjakan mata, lidah akan penasaran mencicipinya. Makanan enak dan rasa yang pas di lidah adalah kesukaan setiap kita.
Pas sekali, dialog interaktif yang diadakan sebagai pembuka festival ini membahas Food and Flavors. Pembicara yang diundang sebagai Keynote Speaker adalah bapak Ir. H. Imran Jauzi, M.Pd (Kepala Dinas THBun Sulawesi Selatan) yang diwakili oleh bapak Syarifuddin (Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas THBun Sul-Sel). Hal pertama yang ia kemukakan adalah apresiasinya terhadap kemampuan siswa-siswi kami yang mampu membuat produk yang meyakinkan untuk dipasarkan. Selanjutnya beliau lebih banyak membahas ketersediaan pangan yang melimpah di Sulawesi Selatan.
Prof.Dr.Ir. Meta Mahendradatta (Ketua Pusat Unggulan Ipteks Diversifikasi Produk Pangan Universitas Hasanuddin) sebagai Narasumber I membahas lebih banyak mengenai bagaimana makanan yang tersaji dipiring membuat manusia yang membutuhkannya tertarik menikmati. Baik dari segi tampilan (warna), rasa, serta kandungan gizinya. Beliau mengajak peserta untuk memperhatikan warna-warna makanannya saat makan. Menurut paparan beliau, semakin banyak warna dalam piring tentu semakin kaya pula kandungan gizi yang disantap jika itu berasal dari pewarna alami.
Narasumber kedua, Ibu Arie Hijriyah (Owner IKM CV. LARS Makassar, Olahan Rumput Laut) menceritakan pengalaman dalam usaha olahan rumput miliknya. Selain itu, beliau juga senang mengeksplorasi bahan makanan yang bisa digunakan sebagai pewarna alami untuk menambah khasanah pengetahuan dan pengalamannya. Ia membagikan pengalamannya dalam uji coba pewarna alami ini.
Bincang-bincang ini dimoderatori oleh Kak Sul (Wakil Direktur SA Le Cendekia Bidang Humas) membicarakan pangan-pangan lokal yang memiliki cita rasa lezat juga sedap dipandang. Hadirin yang hadir menunjukkan antusiasmenya dengan ikut berkomentar dan mengajukan pertanyaan. Dalam kesempatan berharga ini, Kepala Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Gowa turut mengemukakan rasa takjubnya. Ini adalah kesempatan pertama beliau berkunjung ke SA Le Cendekia dan bersedia mendukung praktik-praktik baik yang diselenggarakan oleh sekolah demi mewujudkan kepentingan bersama, baik wilayah juga untuk masyarakat Pakatto.
Siang hari setelah istirahat siang, dilaksanakan pelatihan membuat Kombucha. Kombucha, sudah kenalkah teman-teman dengannya? Fyi, Kombucha adalah jenis minuman probiotik lezat dan baik untuk pencernaan yang dibuat dengan cara difermentasi namun tidak memabukkan. Sebagai salah satu rangkaian Le Food Fest, diadakan Workshop Pembuatan Kombucha yang dibawakan oleh Kebun Tetangga Samata, sebuah proyek kampanye menanam di kebun. Peserta workshop dijelaskan dan diajak menyaksikan langsung langkah-langkah pembuatannya. Sepulang dari LC bisa produksi langsung sendiri di rumah nih. Oleh-oleh tak berwujud namun berharga.
Nah, yang utama adalah pameran produk Tim Agroteknologi siswa-siswi SALC yang diluncurkan pada awal acara dialog interaktif. Ada produk pizza, Creamy Jelly Bunga Telang, Sandwich Buah Mangga, Creamy Mangga, Risol Mayo dan Puding Sedot, Lumpia Pisang,dan aneka minuman. Semakin beragam nih produk-produknya para pengusaha muda kita. Mereka sudah punya brand masing-masing secara berkelompok. Diawal acara, satu persatu perwakilan kelompok memperkenalkan produknya dengan membawa sampelnya di atas panggung.
Eco brick yaitu botol plastik yang diisi dengan limbah sampah plastik secara padat. Pada presentasinya, siswa LIA menjelaskan dampak negatif sampah plastik terlebih dahulu. Sama dengan topik Eco Enzyme yaitu larutan dari hasil fermentasi limbah kulit buah, mereka menjelaskan langkah pembuatan serta manfaatnya yang tentu saja menjadi salah satu jalan kampanye kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan lingkungan yang ‘penuh’ sampah ini. Kampanye kepada masyarakat, terkhusus untuk diri sendiri pastinya ya.

Selain memperkenalkan Le Cendekia diawal acara, para presenter turut serta membagikan praktik yang kami lakukan di sekolah sebagai pemakmur bumi.