SEARCH
Your address will show here +12 34 56 78
Event, Lates News

“Seru!” adalah jawaban terbanyak saat minweb meminta adik-adik peserta Eduperience menyebutkan satu kata yang mewakili untuk Eduperience Volume 3 ini.



“Sebelum berangkat, saya bayangkan akan rindu dengan orang tua dan keluarga besar. Ternyata Eduperience ini SERU!”, ungkap Zidan (kelas 7). Ini adalah Eduperience pertama yang ia ikuti. 




Alhamdulillah, siswa siswi kami menikmati program yang dimaksudkan untuk memberi ruang pembiasaan untuk sejenak keluar dari zona nyaman agar kelak bisa mempertahankan hidup bagaimanapun kondisi yang dialami di masa depan. Diharapkan pengalaman ini bisa menjadi bekal bagaimana hidup dengan fasilitas minim, tidak sama dengan segala fasilitas yang secara mudah didapatkan di rumah masing-masing.


Eduperience, Education and Experience
, adalah salah satu program tahunan Sekolah Alam Le Cendekia (Boarding School) yang mengajak adik-adik siswa mendapat pengalaman secara langsung dari masyarakat desa. Para generasi milenial ini diajak tinggal di rumah warga secara berkelompok dan mengikuti aktifitas keseharian warga di desa. 

Setelah dua kali dilaksanakan pada tahun 2018 dan 2019, lalu sempat vakum pada tahun 2020, tahun 2021 ini Eduperience Vol 3 kembali dilaksanakan hari Senin, 6 Desember 2021 hingga hari Kamis, 9 Desember 2021. Lokasinya kini diadakan di Dusun Balocci, Desa Benteng Gajah, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros. Rombongan Eduperience Vol 3 berangkat dari asrama sekolah di desa Pakkatto, Kab Gowa diantar oleh truk Dalmas ke lokasi pusat Desa kemudian berjalan kaki sejauh kurang lebih 700 meter. Setelah beristirahat di rumah warga (basecamp kakak guru), para pejuang tangguh secara berkelompok diantar ke rumah warga tempat siswa akan tinggal selama 3 hari kedepan.



Terpilihnya lokasi Eduperience kali ini tentu dengan banyak pertimbangan termasuk kondisi dusun dan pekerjaan masyarakat yang beragam sehingga bisa menjadi tambahan wawasan yang disaksikan dan dirasakan secara langsung. Pekerjaan masyarakat secara umum adalah penggembala sapi, penggiling padi, petani, pekebun sayur, peternak lele, penebang rumput gajah, peternak ayam potong, pekebun tanaman paku dan mengolahnya, melakukan praktek biogas, serta pekerjaan lainnya.

Peserta mengikuti aktifitas keseharian keluarga angkatnya termasuk membersihkan rumah dan memasak untuk dinikmati bersama. Membersihkan rumah dan memasak mungkin telah menjadi aktifitas keseharian di rumah maupun di asrama. Namun tentu berbeda dengan di desa, material, perabotan rumah, ataupun perlengkapan memasak. Bagi Fath (kelas X), ia mengaku senang bisa membantu pekerjaan rumah orang tua angkatnya. Termasuk membantu memasak dan membersihkan rumah. 



Selain beraktifitas di rumah masing-masing, diadakan aktifitas bersama. Pada malam hari, adik-adik laki-laki akan sholat berjamaah Magrib dan Isya di masjid. Diantara dua waktu sholat itu, mereka mengaji Al Quran bersama. Adik-adik perempuan juga melaksanakannya di rumah masing-masing.



Pagi hari dihari kedua, adik-adik melakukan kerja bakti membersihkan masjid kemudian siang harinya mengunjungi pabrik biogas. Ternyata, tidak hanya sekadar mengunjungi pabrik Biogas, adik peserta dikenalkan uji praktik proses pengolahan kotoran sapi menjadi energi terbarukan sebagai sumber gas memasak di rumah warga. 


Sesi belajar didampingi langsung oleh Kak Asdi, pengampuh mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup di Le Cendekia yang juga merupakan seorang tenaga pengajar di Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin. Kabarnya, desa Benteng Gajah ini termasuk binaan “Desa Mandiri Energi” Pemprov Sul-Sel beberapa tahun silam. Namun, seiring berkurangnya jumlah kotoran sapi karena warga tidak lagi memelihara sapi, tersisa sekitar 30% dari total 55 reaktor biogas milik warga yang masih digunakan untuk keperluan memasak sehari-hari. 


Hari itu, generasi pemakmur bumi Allah belajar banyak. Menurut Zidan (kelas7), berkunjung dan belajar mengenai Biogas adalah kegiatan yang mengesankan baginya. Sore harinya pun jadi lebih berkesan karena diadakan permainan mini outbound yang seru bersama teman-teman.


Hari berikutnya, jadwalnya berbagi keceriaan dengan adik-adik di desa. Diadakan lomba yang memantik keakraban antara peserta dan adik-adik siswa MI DDI Sakeang.  Kegiatan porseni kecil-kecilan ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang berkesan bagi Bulqis (kelas X), “Lucu melihat adik-adik kecilnya lomba”, katanya. Setelah membangun keakraban dengan anak-anak desa, malam harinya diadakan acara nonton bareng. Warga dan seluruh peserta Eduperience berbaur. Pengalaman yang semoga selalu menjadi kenang indah dimasa depan. Aamiin.


Hari terakhir, waktunya pamit. Alhamdulillah. Tunai sudah ikhtiar belajar langsung melalui pengalaman hidup di desa. Haru, karena ternyata kehidupan desa begitu hangat. Sebelum pulang, dititipkan donasi untuk pembangunan masjid dari keluarga Le Cendekia. Semoga kehadiran kami di dusun Balocci ini mendapat kesan dan kenang baik dihati warga. 




Bagi salah seorang adik siswa peserta Eduperience Vol 3, hal yang paling berkesan baginya adalah saat bisa memasak nasi tanpa dandang yang hasilnya enak dan tidak gosong. “Hari pertama, saya dan teman-teman kelompok mau masak nasi, biasanya di sekolah pake dandang. Saat ingin masak nasi saya dan teman teman yang lain sedang mengukur takaran nasi, lalu ibu angkat membantu mengukur dengan bertanya siapa aja yang akan makan dan sebagainya. Setelah itu ibu angkat mengajari kami masak nasi tanpa dandang, dengan mencontohkannya langsung. Esok hari dan seterusnya, kami bisa melakukan sendiri dan hasilnya enak,” cerita adik Raihanah (kelas IX). 


Selain akhirnya bisa memasak nasi tanpa dandang, Raihanah dan teman-teman mendapat banyak pengalaman berharga. Kelompok siswi ini tinggal bersama keluarga yang memiliki warung dan anak berkebutuhan khusus, juga memelihara sapi. “Kami mengajari membaca anak orang tua  angkat yang berkebutuhan, usianya sudah 25 tahun tapi badannya kecil. Kami juga pernah ikut bersama bapak angkat ke kandang sapi di malam hari untuk memindahkan ikatan sapi. Karena malam, kami khawatir tapi yakin bapaknya baik dan peduli sama kami. Teman yang lain membantu menjaga warung karena ibu angkat harus berangkat ke puskesmas membantu orang melahirkan.”





Ada juga yang rasanya masih ingin menemani nenek yang tinggal sendirian di rumahnya. Malam-malam nenek tidak lagi sepi karena ada yang menemaninya menonton sinetron. Adik Aqilah bercerita, “Saat malam terakhir kami makan malam bersama dengan nenek, kami menceritakan tentang sekolah kami dan bertanya ke nenek mengenai suara tembakan yang selalu kami dengar tiap hari, ternyata itu suara dari tempat pelatihan TNI yang berada dekat dari wilayah itu. Lalu nenek mulai curhat tentang bagaimana dia hidup sendiri sebelumnya. Beliau juga bercerita tentang betapa sedihnya nanti kalau kami sudah pergi, Nenek tidak punya anak dan suami. Hanya ditemani dengan ayam dan sapi peliharaannya di belakang rumah”.

Ketika kelompok lain merasakan hangatnya bisa hidup bersama keluarga baru, berbeda dengan kisah kelompok yang dipimpin Bulqis (kelas X). Mereka tinggal di rumah keluarga peternak ayam. Sehari-hari, aktifitas orang tua angkatnya di kandang ayam. “Saat kami masuk ke kandang ayam, kami kaget karena di dalamnya ada kamar. Kandang ayamnya besar, ada 300 lebih ayam yang dipelihara disana”, cerita Bulqis. Walaupun hanya ditemani anak dari orang tua angkatnya, mereka tetap memaknai Eduperience dengan kisah tak terlupakan. Misal saat mandi, ada ayam yang masuk di kamar mandi. Hihi. 


Selain cerita menarik yang sempat minweb gali dari pemuda pemudi ini, ada juga kelompok yang diajak memotong rumput gajah sebagai pakan ternak, juga memberi makan ikan lele. Bervariasi, semua mendapat pengalamannya masing-masing.

Alhamdulillah. Pengalaman-pengalaman inilah kelak yang akan menjadi bekal berharga di masa depan. InsyaAllah.

0

Artikel, Event, Lates News

Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 16 Oktober di lebih dari 150 negara untuk menciptakan kesadaran dan tindakan dalam rangka pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang merupakan komitmen global dan nasional sebagai upaya untuk menyejahterakan masyarakat. Salah satu poin SDGs bertujuan untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, memperbaiki nutrisi dan mempromosikan pertanian yang berkelanjutan.

Hari Sabtu, 16 Oktober 2021, Sekolah Alam Le Cendekia (Boarding School) menyelenggarakan Peringatan Hari Pangan Sedunia 2021 sebagai bentuk partisipasi aktif yang bertujuan untuk meningkatkan dampak kolektif kepada masyarakat sekitar Desa Pakatto Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa untuk turut mengawal aksesibilitas dan keterjangkauan makanan sehat untuk semua, diproduksi dan diproses secara berkelanjutan. Transformasi sistem pangan dan solusi inovatif kita yang bergerak lebih dari sekadar solusi teknis.

Peringatan Hari Pangan Sedunia yang bertajuk Le Food Fest 2021 ini diawali dengan sambutan dari pembina sekolah dari Yayasan Hexa Mulia Cendekia, Andi Olle Mashurah yang memaparkan pandangan dan harapan mengenai program olahan pangan. Selanjutnya Kepala Desa Pakkatto memberikan sambutan yang hangat serta dukungannya kepada Sekolah Alam Le Cendekia untuk terus melaksanakan fungsi edukasinya yang tentu berdampak pada masyarakat setempat. Dukungan yang sama juga disampaikan oleh Kepala Camat Bontomarannu (mewakili) untuk berkolaborasi dan memanfaatkan sumber daya alam yang kaya khususnya di daerah kecamatan Bontomarannu ini.


Ungkapan kebanggaan pun terlontar dari Kepala Dinas Pendidikan Gowa (mewakili) yang mengaku bangga bisa menyaksikan acara festival dengan berbagai macam hasil kebun sekolah yang tersaji dalam berbagai olahan.

Diakhir acara pembukaan, diadakan peluncuran logo produk kebun sekolah dengan nama “Le Keboon”. Sebelumnya, sekolah mengadakan sayembara pembuatan logo yang terbuka untuk kakak guru, siswa, dan alumni. Pemenang sayembara ini adalah Bulqis, siswa kelas X yang memang sangat mencintai dunia desain grafis. Selamat ya adik Bulqis. Semoga hadiahnya bermanfaat dan memotivasi untuk terus berkarya, juga bisa menginspirasi teman-teman lain untuk terus mengasah potensi yang ada pada diri masing-masing.



Setelah acara pembukaan, beberapa rangkaian acara yang telah dipersiapkan dengan matang pun dimulai. Rangakaian acara pertama adalah dialog interaktif bertema Mandiri dan Berdaya dengan Bahan Pangan Lokal dengan pembicara Prof. Dr. Ir. Amran Laga, MS (Dosen Ilmu Teknologi dan Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin) dan Ferdi Mochtar, S.Pt, M.Sc, PhD. (Plt ka Dinas Ketahanan Pengan Kota Makassar). Dialog ini mengajak para peserta untuk melek pangan dan memanfaatkan potensi yang ada disekitar untuk diolah. Potensi bahan lokal di sekitar kita banyak yang tidak digunakan, bahkan diabaikan karena ketidaktahuan, serta ketergantungan masyarakat yang sangat besar pada terigu yang semua bahan bakunya diimpor.

Diselingi dengan lomba mewarnai Totebag dan membuat Oshibana (merangkai bunga kering), acara selanjutnya yang tidak kalah menarik adalah Meracik Teh dan Tisane bersama artani.id. Dari workshop ini, peserta dibikin melek lagi tentang racik meracik teh yang perlu tips dan trik dengan bahan macam-macam, bukan hanya teh yang selama ini lazim dikenal.

Kalau menurut minweb nih, yang paling sayang dilewatkan di Le Food Fest ini selain welcome drink (teh sereh jahe dan teh kembang telang) serta sajian nasi pelangi yang diwarnai dengan pewarna alami, ada cindermata alias souvenir yang dibagikan kepada tamu undangan yang hadir. Souvenirnya berisi aneka bibit (stevia, mint, rosella, bunga matahari mini), benih bunga telang dan rosella, serta 250 ml ecoenzym. Jika benih dan bibit tumbuh subur serta ecoenzymnya digunakan sesuai fungsi, kemudian nanti tanamannya bermanfaat bagi yang menanam lalu menghasilkan benih dan bibit baru lagi, tercapailah salah satu mimpi sederhana, ketahanan pangan.

Rangkaian acara dari pagi hingga menjelang sore ini tentu tidak lengkap tanpa kehadiran para tenan yang menyediakan berbagai penganan untuk dinikmati para tamu, tentunya dengan merogoh isi dompet. Hadir Yukai Kitchen yang menyediakan jajanan khas Jepang, Mother Prayer dengan berbagai macam jenis burgernya, Diz’ drink dengan korean milknya, Dayyan Kitchen dengan minuman dan snacknya, juga tenat-tenant lainnya yang digawangi oleh kakak guru dan adik-adik siswa termasuk hasil belajar kelas X dalam program Agroteknologi yaitu T-Preneur, Magis Shop, Remedy, LePaya, Dapur Denisa, NumNom, Athursdye, Dimsum dan Kebab.

Kegiatan ini tentunya adalah hasil kerja kreatif kolaborasi antar kakak guru dan adik-adik siswa yang turut aktif dalam persiapan hingga berjalannya acara. Ada yang menjadi pembawa acara, tim dokumentasi, tim keamanan, dan lainnya. Satu lagi proses belajar langsung yang tidak didapatkan di dalam kelas untuk adik-adik siswa tercinta. Semoga selalu bersyukur menjadi siswa Le Cendekia ya dik.


Akhir kata, Bijak Konsumsi, Sehatkan Bumi!

0

Artikel, Event, Lates News

Sampah dan pengelolaannya adalah hal yang esensial untuk diperhatikan bagi kita semua, khususnya kami sekolah berasrama. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, tentu dalam sehari ada saja sampah yang dihasilkan. Di Le Cendekia, kami menghasilkan cukup banyak sampah walau telah berusaha menguranginya.

Untuk limbah dapur, telah disediakan komposter sehingga limbah organik dapur dapat melalui pengomposan yang dimanfaatkan untuk tanaman di kebun sekolah. Juga pembuatan Eco Enzym dari kulit buah yang hadir setiap hari dari snack buah untuk adik siswa dan kakak guru. 


Untuk sampah plastik, kaleng, dan lainnya kami akui, kami belum mampu mengelolanya dalam jumlah cukup banyak. Program Reuse, Recycle, dan Reduce telah diupayakan seperti pemanfaatan jerigen bekas sebagai wadah pembibitan serta digunakan untuk pembelajaran dengan membuat prakarya dan bahan praktikum. Jika sangat menumpuk, sampah plastik akan dibakar.

Kami sadari tentu tindakan ini merusak ekosistem, kami terus mengupayakan pengurangan sampah dengan mengajak adik siswa untuk membuat ecobricks dari sampah  snack yang dibawa dari rumah. Bahkan adik-adik berusaha membawa snack tanpa sampah ke asrama. Namun sampah masih terus menumpuk.

Mall Sampah sebagai wadah platform digital dalam sektor pengelolaan sampah daur ulang kami rasa telah menjadi jawaban terbaik bagi kami untuk mengatasi masalah sampah yang menumpuk dan minim pengelolaan di asrama saat ini. Alhamdulillah, gayung bersambut. Pihak Mall Sampah bersedia memaksimalkan pengelolaan sampah di asrama secara rutin dengan melakukan penjemputan setiap bulan dan melakukan daur ulang. Sama seperti jika parents menggunakan aplikasi mall sampah pada gawai masing-masing, pengepul sebagai mitra Mall Sampah akan menjemput sampah parents. Sampah tersebuh ditukar dengan nominal rupiah sesuai dengan kriteria sampah yang dijemput. Alhamdulillah, dari sampah jadi cuan 🤑

Ceremonial bentuk kerja sama ini terlaksana di asrama Le Cendekia Pakkatto, tanggal 25 September 2021. Diawali dengan sambutan oleh Wakil Direktur bagian Humas Sekolah Alam Le Cendekia kak Nur Syamsul, dilanjutkan dengan sharing session tentang urgensi dan kepedulian terhadap sampah masa kini oleh dosen Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Kak Nurul Masyiah Rani Harusi serta penandatangan perjanjian kerja sama antara kak Adi Saifullah Putra selaku Direktur Utama Mall Sampah dan kak Asriadi Sakka selaku Direktur Sekolah Alam Le Cendekia. Diakhir acara, ada juga penjelasan mengenai kriteria sampah yang bisa dijemput oleh pengepul berikut harga perkilonya serta penjelasan singkat mengenai proses daur ulangnya. Jadi sampah botol plastik bahkan ada kriteria juga lho, ada yang termasuk botol plastik berwarna dan tidak.

Adik-adik dan kakak guru mendapat ilmu dan pengalaman lagi. Alhamdulillah… Semoga kelak Le Cendekia bisa mengelola sampahnya sendiri deh. Biar sampah-sampah masyarakat umum saja yang dikelola Mall Sampah😬 Sukses terus Mall Sampah, terima kasih telah bekerja keras untuk bumi yaa.

0

Event, Lates News

Alhamdulillah bisa Outing Class! Sejak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, pembelajaran kelas menjadi sangat terbatas. Meski di Le Cendekia kami tetap ada kegiatan outdor di sekitar asrama, rasanya bagai angin segar saat mendapat undangan dari program IPTEKS Bagi Masyarakat (IbM) yg dilaksanakan oleh Depatemen Teknik Mesin, Universitas Hasanuddin.


Hari Rabu, 28 Juli 2021 dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, 10 orang adik siswa dan 3 kakak guru pendamping datang ke Fakultas Teknik Unhas Gowa. Sepuluh orang adik siswa yang beruntung adalah 8 siswa kelas X dan 2 wakil siswa kelas IX. Program ini mendukung program unggulan untuk jenjang SMA di LC yaitu program Agro Teknologi dan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang diharapkan bisa menjadi bekal pengetahuan awal bagi adik siswa.



Outing class ini diawali dengan materi tentang pengenalan pembangkit listrik tenaga surya dan materi tentang smart hidroponik yang dibawakan oleh dosen dari Departemen Teknik Mesin FTUH. Selanjutnya adik-adik diajak berkeliling ke 2 laboratorium yang ada di departmen teknik mesin yaitu laboratorium Robotika dan Laboratorium Metalurgi Fisik. Adik-adik antusias mendapat penjelasan mengenai perangkat dan produk yang ada di laboratorium tersebut.



Dari outing class ini adik siswa mendapat kesempatan berdiskusi dengan pakar keilmuan teknologi yang biasa mereka dapatkan di keseharian mereka. Adik Annisa kelas X menanyakan mengenai biaya penggunakan listrik PV (Photovoltaic), mengapa tidak digunakan di rumah-rumah sebagai sistem listrik secara mandiri. Tentu ini hasil dari pengamatan adik siswa di kesehariannya yang selalu diingatkan untuk menghemat penggunaan listrik di rumah. Tidak lupa, adik Annisa juga menanyakan hambatan dan pengalaman yang ia dapatkan di kebun hidroponiknya.



Pengalaman langsung memang memberi pelajaran terbaik ya. Semoga Le Cendekia bisa terus memberi pengalaman belajar langsung bagi adik siswanya agar lebih bermanfaat. Aaamiiin

0

Artikel, Event, Lates News

Usia berapa panitia pemotongan hewan qurban di tempat parents? Di tempat minweb sih panitianya rata-rata usia dewasa. Usia remaja cukup membantu sedikit-sedikit, paling banyak kebagian menjadi tim distribusi daging ke rumah warga.


Di Le Cendekia, panitia utamanya justru usia SMP dan kelas X SMA. Mereka bisa apa? Dari proses membantu pemotohan hewan qurban, menguliti, memotong kecil-kecil, menimbang, mengemas, hingga pendistribusian termasuk pengawasan dan dokumentasi semua dipercayakan ke adik siswa dengan pendampingan kakak guru. Terkecuali tukang jagalnya, ini didatangkan khusus. Tugas ini perlu pengalaman yang mumpuni, tapi bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan ada adik siswa yang berlatih menjadi jagal setelah menyaksikan proses penyembelihan qurban secara langsung.



Setelah berlebaran bersama keluarga di rumah masing-masing, sore harinya adik-adik kembali ke asrama untuk mempersiapkan proses pemotongan daging qurban yang akan dilaksanakan esok hari di asrama. Ini adalah kegiatan yang dinanti-nantikan setiap tahunnya. Pengalaman berbagi yang sungguh mengesankan.


Sebanyak 2 ekor sapi dan seekor kambing yang disembelih. Kita intip yuk pelaksanaan pemotongan hewan qurban di asrama Sekolah Alam Le Cendekia…

 

Proses penyembelihan hewan qurban oleh tenaga berpengalaman.

Menguliti kulit kambing tentu perlu keahlian khusus, hati-hati dagingnya ikut terpisah…


Area penimbangan sekaligus belajar berat daging yang pelu dibagi.

Area pemotongan kecil.

Area pengemasan. Setelah ditimbang, daging dikemas untuk siap didistribusikan.


Ada divisi menghias juga ternyata. Ini akan Menambah nilai lebih kepuasan memberi jika kemasan terlihat indah.

Daging qurban siap didistribusikan. Masya Allah. Pengemasan daging qurbannya sungguh ciamik ya. Dihias seperti hampers kekinian dengan hiasan rangkaian ilalang dan kartu ucapan. Rangkaian ilalang ini dikumpulkan dari halaman sekolah loh…


Wadah daging yang akan dibagikan sangat menarik perhatian minweb. Bentukannya berbeda-beda karena ini adalah hasil karya adik-adik bersama keluarga saat pulang ke rumah untuk lebaran. Macam-macam idenya sesuai syarat dan ketentuan dari kakak guru, yaitu terbuat dari bahan alam dan tidak dibeli. Ada yang dari anyaman daun pandan, daun pisang, daun kelapa, daun mangga, juga ada yang membuatnya dengan buah labu. “Biar sekalian jadi sop daging labu”, katanya.  Unik dan tidak ada lagi sampah plastik dari pendistribusian daging ini.

Alhamdulillah.

Daging-daging dengan kemasan menarik hati kemudian dibagikan ke rumah warga di sekitar asrama.

 


Alhamdulillah, saatnya menikmati olahan masakan daging qurban. Semoga lelah-lelah hari ini mendapat berkah dan terhitung pahala disisi Allah.

Terima kasih atas kerja ikhlasnya adik-adik!

0

Event, Lates News

“Hectic! Tapi terharu dan bangga bisa membersamai adik-adik berwirausaha lagi setelah vakum sekian purnama”, Kak Ria, kakak guru pendamping program terharu, akhirnya Home Economy sebagai program paling ditunggu oleh setiap warga Le Cendekia digelar kembali.

Program Home Economy telah bermetamorfosis dari yang awalnya belajar memanfaatkan bahan yang tidak terpakai menjadi suatu alat yang memiliki daya guna dan daya jual. Kemudian adik siswa belajar mencampur bahan-bahan makanan yang mudah didapat kemudian mengolahnya lalu mencicipi bersama hingga menjajakan ke tetangga. Berawal saat Market Day Rumah Sekolah Cendekia, program ini menjadi cukup terkenal dengan Le Cafe n Shop di kalangan tetangga dan adik-adik SD. Untuk melebarkan pasar, kakak guru mengajak adik-adik memperkenalkan diri ke pasar Car Free Day dihari Minggu.

Setelah pindah ke gedung sekolah di Pakkatto, satu semester program Home Economy mengambil jeda. Kemudian merambah menjadi toko kecil yang buka setiap hari Jumat dengan menjual hasil tangan siswa dan orang tuanya di gedung sekolah yang lama, Kompleks Ruko Citra Garden. Sekarang tokonya menjalin kerja sama dengan Peace Cream, sebuah gerai es krim. Hingga inovasi terbaru untuk terus menumbuhkan semangat bermuamalah bagi seluruh warga dengan membuka Le Shop di area asrama untuk memenuhi kebutuhan adik di asrama.

Le Shop dibuka setiap dua pekan sekali di hari Ahad. Adik-adik siswa dan kakak guru begitu semangat setiap kali Le Shop akan dibuka. Terbukti saat Le Shop perdana dibuka kembali, total 5 tenant yang ikut serta dan bertambah pada pekan selanjutnya menjadi 8 tenant. Begitu pula dengan variasi produk yang ditawarkan.

Produk yang ditawarkan secara umum adalah makanan. Namun ada juga adik siswa yang menawarkan jasanya. Dialah adik Syauqi, menawarkan jasa foto bermodal kamera serta kemampuannya menjepret gambar juga mengedit foto. Saat ditanya kesannya, Ia bercerita, “Awalnya saya bingung mau jualan apa, terus semakin mendekati hari H jadinya kepikiran ‘jual hobi’ saja deh. Sempat pesimis apa bakal ada yg mau di foto? Tapi Alhamdulillah ada Thariq yg menjadi org pertama yg meminta jasa saya, lalu akhirnya teman-teman yg lain jadi ikutan juga. Saya jadi senang. Hobi saya bisa menghasilkan uang.”

Kami berharap, program Home Economy bertajuk Le Shop ini terus mengantarkan adik-adik siswa juga seluruh warga Le Cendekia untuk meraup banyak manfaat dari berdagang sebagaimana yang dicontohkan Rasullulah. Perlu diketahui, omzet penjualan salah satu tenant dalam satu kali pasar bahkan mencapai Rp 900.000,-.

“Seru. Senang melihat jualan bisa terjual habis padahal awalnya tidak menyangka krn harganya yang mungkin agak mahal. Next time mau jualan lagi. Ternyata dapat uang dari hasil usaha sendiri itu menyenangkan,” kesan adik Ali, kelas 7.

Kini, ada yang berbeda dalam pelaksanaan Le Shop. Uang yang digunakan untuk berbelanja bukan berbentuk uang rupiah asli yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, melainkan oleh Bank Le Cendekia. Jadi, sebelum berbelanja, kita harus  menukarkan uang di Money Changer LC terlebih dahulu.

Penggunaan uang ini bertujuan melatih siswa mengikuti aturan/ prosedur, belajar disiplin, mengetahui jumlah uang yang beredar di area pasar, juga mengantisipasi ketiadaan pecahan uang kecil yang sangat terbatas di pasar muamalah.

Alhamdulillah. Satu aktifitas ini banyak sekali tujuan dan proses belajar yang diharapkan. Semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan dalam setiap proses yang dijalani siswa, serta seluruh warga belajar Le Cendekia.

0

Event

“Bu, jadi semua ‘tumpengan’ ini sudah dari hasil halaman sekolah?”

Salah seorang dari orangtua siswa menghampiri kami dengan takjub. Ini kedatangannya yang kedua kalinya. Yang pertama saat penamatan putra pertamanya. Kedatangannya yang kedua saat penerimaan raport siswa untuk putra keduanya.

“Belum Pak. Hasil dari sekolah baru singkong, labu, serta daun pisangnya. 😍 Insyaa Allah, bila kita semua masih ada usia dan dalam keadaan sehat, milad ke 4 yang akan datang, yang terhidang adalah hasil dari halaman semua.”

Optimis sekaliiii… Mesti begituuu. Optimis itu booster semangat bukan? Apalagi, kami beserta semua siswa tidak berpangku tangan. Aktivitas ketahanan pangan yang kami giatkan belakangan ini, mulai memperlihatkan hasil.

Saya berkeliling di sekitar asrama, tanaman melon mulai dibuatkan rambatan, calon buah lemon yang tanamannya disumbangkan oleh orangtua siswa buahnya makin membesar, juga 3 pohon pisang cavendish yang makin menghijau. Aneka tanaman buah mengelilingi asrama kami, Pepohonan jangka panjang, yang kerimbunan daunnya kelak akan meneduhi halaman tempat para siswa beraktifitas. Aneka sayuran, kami kenalkan pada para siswa. Mulai dari membedakan benih, menyiapkan lahan, membuat persemaian hingga menanam dan merawatnya, kami latihkan. Di antara mereka, mungkin ada yang baru pertama kali itu ‘bermain’ tanah. Tak mengapa, semua memang ada pertama kalinya. Bahkan Anda yang sekarang bisa berlari kencang, juga mengawalinya dengan langkah pertama bukan? Dengan tertatih-tatih, bahkan jatuh bangun, tapi Anda, saya, kita semua … tak pernah menyerah.

Tiga tahun sudah kami bertumbuh. Mulai dari belajar di ruko, dengan ruangan disekat-sekat, yang kadang kemasukan air bila hujan serius mengguyur bumi. Namun kami memiliki halaman belajar dan praktek yang seluas kompleks ☺️ karena digunakan bareng-bareng dengan warga kompleks lainnya, 😁😁 Lalu waktu terus bergulir. Kami lantunkan doa, agar segera bisa menempati sekolah baru. Maka kami pun boyongan pindah di akhir tahun pelajaran dan menempatinya setahun lalu. Memaksakan agar bisa segera ditempati, walaupun … “Belajar sains berbarengan ketukan palu para tukang,” begitu kata Andi Tabriah salah seorang dari orangtua siswa

Dan kini, saya di sini, berdiri di atas Masjid Le Zaharah yang masih sepertiga rampung. Masjid yang selain digunakan untuk sholat berjamaah para siswa dan warga sekitar, juga difungsikan sebagai ruang kelas, ruang kantor, UKS, perpustakaan, pokoknya ruang serbaguna. Fungsi masjid aslinya memang seperti itu bukan? Ruangan yang benar-benar layak, baru asrama siswa, demi memberikan kenyamanan, dan terutama keamanan, bagi para siswa yang dipercayakan oleh orangtuanya kepada kami.

Doakan kami agar terus bertumbuh dengan sehat. . Doakan kami agar Le Cendekia bisa ikut memberi solusi dari berbagai ketimpangan sistem pendidikan kita. Doakan agar kami terus bisa mengemban amanah, mendampingi siswa-siswi kami agar kelak menjadi Generasi Pemakmur Bumi, Rahmatan lil ‘Alamin.

Oleh: Olle Hamid

 

0

Event

Hari Ahad, 12 Juli 2020 digelar acara penyambutan siswa baru kelas VII Angkatan  ke- IV di gedung sekolah Le Cendekia, Desa Pakatto Caddi’, Kab. Gowa. Dihadiri oleh siswa baru yang masing-masing diantar oleh keluarganya, acara penyambutan berlangsung cukup meriah dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19 ini.

Diawali dengan sambutan Selayang Pandang perjalanan Le Cendekia oleh Ibu Andi Olle Mashurah, kemudian dilanjutkan dengan permainan logika yang dipandu oleh Ibu Ratna Juita serta perkenalan masing-masing siswa baru.  Masing-masing siswa membawa pohon keluarga untuk diperkenalkan di atas panggung. Selain perkenalan para siswa baru, juga dikenalkan jajaran para guru dan staff. Perwakilan akak kelas VIII dan kelas IX turut hadir untuk menjelaskan program Unggulan Sekolah, Home Economy serta langsung menjajakan produknya kepada undangan yang hadir.

Selamat mengarungi babak baru dalam kehidupan bersekolah, adik-adik.

0