Artikel, Event, Lates News
Berkemah identik dengan latihan fisik disertai cuaca panas yang menyebabkan kebutuhan cairan tubuh juga meningkat. Begitulah pengalaman minweb saat usia sekolah. Ternyata di Sekolah Alam Le Cendekia, paradigma ini perlahan digantikan dengan semangat mendulang pahala di bulan Ramadhan. Pahala kebaikan dilipatgandakan, termasuk pahala menuntut ilmu Insya Allah.
Pada tanggal 9 – 11 April 2023, berlokasi di kampus Sekolah Alam Le Cendekia, Macca Education (sebuah lembaga pendidikan Bahasa Inggris di Kota Makassar) mengadakan English Camp bagi siswa SMP/ SMA sederajat. Kegiatan kerja sama ini bertajuk Le Macca Youth Camp, yaitu kegiatan rekreasi di luar ruangan yang bertujuan untuk membiasakan penggunaan Bahasa Inggris di muka umum yang dikemas dalam bentuk staycation event.
Tenda-tenda dibangun di halaman sekolah untuk menciptakan suasana menyenangkan selama kegiatan. Konsepnya, para peserta beristirahat malam di kemah secara berkelompok dan mengikuti kegiatan di halaman maupun koridor sekolah sepanjang hari. Kegiatannya pun dikemas dengan menarik berupa permainan-permainan yang memantik peserta untuk bersemangat belajar berbahasa Inggris.

Le Macca Youth Camp ini diikuti bukan hanya oleh seluruh siswa Le Cendekia yang juga mengisi aktivitas Ramadhannya di asrama, namun ada juga peserta lain dari SMA Negeri 17 Makassar dan MTsN 1 Makassar. Hafidz, salah seorang peserta camp mengaku “I am tired but it is really fun. I like it.” Alhamdulillah, keseruan event ini mengalahkan kelelahannya.

NAGIH!
Sebagaian besar respon peserta ingin kegiatan seperti ini sering-sering diadakan. Akhirnya mereka mengakui bahwa belajar Bahasa Inggris mudah dan menyenangkan. Kegiatan apa sajakah yang membuat anak muda ini tidak bisa move on? Minweb jadi penasaran :”) Kita intip melalui foto yang bercerita di bawah, yuk.
Alhamdulillah. What a great weekend! Seru sekali ternyata belajar Bahasa Inggirs. Besok-besok, alumni English Camp melanjutkan ‘camp’ ini di asrama ya.































Pelangi Nusantara diangkat sebagai tema Le Food Fest 2022. Warna-warni pangan yang tersebar di setiap titik bumi Indonesia menandakan kekayaan pangan negeri kita. Kaya warna, tentu saja kaya manfaat karena setiap warna pada makanan mempresentasikan kandungan yang dimilikinya. Saat makanan tersaji di hadapan kita, indra pertama yang merespon adalah penglihatan. Jika yang tersaji adalah makanan yang tertata rapi dengan warna-warni yang memanjakan mata, lidah akan penasaran mencicipinya. Makanan enak dan rasa yang pas di lidah adalah kesukaan setiap kita.
Pas sekali, dialog interaktif yang diadakan sebagai pembuka festival ini membahas Food and Flavors. Pembicara yang diundang sebagai Keynote Speaker adalah bapak Ir. H. Imran Jauzi, M.Pd (Kepala Dinas THBun Sulawesi Selatan) yang diwakili oleh bapak Syarifuddin (Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas THBun Sul-Sel). Hal pertama yang ia kemukakan adalah apresiasinya terhadap kemampuan siswa-siswi kami yang mampu membuat produk yang meyakinkan untuk dipasarkan. Selanjutnya beliau lebih banyak membahas ketersediaan pangan yang melimpah di Sulawesi Selatan.
Prof.Dr.Ir. Meta Mahendradatta (Ketua Pusat Unggulan Ipteks Diversifikasi Produk Pangan Universitas Hasanuddin) sebagai Narasumber I membahas lebih banyak mengenai bagaimana makanan yang tersaji dipiring membuat manusia yang membutuhkannya tertarik menikmati. Baik dari segi tampilan (warna), rasa, serta kandungan gizinya. Beliau mengajak peserta untuk memperhatikan warna-warna makanannya saat makan. Menurut paparan beliau, semakin banyak warna dalam piring tentu semakin kaya pula kandungan gizi yang disantap jika itu berasal dari pewarna alami.
Narasumber kedua, Ibu Arie Hijriyah (Owner IKM CV. LARS Makassar, Olahan Rumput Laut) menceritakan pengalaman dalam usaha olahan rumput miliknya. Selain itu, beliau juga senang mengeksplorasi bahan makanan yang bisa digunakan sebagai pewarna alami untuk menambah khasanah pengetahuan dan pengalamannya. Ia membagikan pengalamannya dalam uji coba pewarna alami ini.
Bincang-bincang ini dimoderatori oleh Kak Sul (Wakil Direktur SA Le Cendekia Bidang Humas) membicarakan pangan-pangan lokal yang memiliki cita rasa lezat juga sedap dipandang. Hadirin yang hadir menunjukkan antusiasmenya dengan ikut berkomentar dan mengajukan pertanyaan. Dalam kesempatan berharga ini, Kepala Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Gowa turut mengemukakan rasa takjubnya. Ini adalah kesempatan pertama beliau berkunjung ke SA Le Cendekia dan bersedia mendukung praktik-praktik baik yang diselenggarakan oleh sekolah demi mewujudkan kepentingan bersama, baik wilayah juga untuk masyarakat Pakatto.
Siang hari setelah istirahat siang, dilaksanakan pelatihan membuat Kombucha. Kombucha, sudah kenalkah teman-teman dengannya? Fyi, Kombucha adalah jenis minuman probiotik lezat dan baik untuk pencernaan yang dibuat dengan cara difermentasi namun tidak memabukkan. Sebagai salah satu rangkaian Le Food Fest, diadakan Workshop Pembuatan Kombucha yang dibawakan oleh Kebun Tetangga Samata, sebuah proyek kampanye menanam di kebun. Peserta workshop dijelaskan dan diajak menyaksikan langsung langkah-langkah pembuatannya. Sepulang dari LC bisa produksi langsung sendiri di rumah nih. Oleh-oleh tak berwujud namun berharga.
Nah, yang utama adalah pameran produk Tim Agroteknologi siswa-siswi SALC yang diluncurkan pada awal acara dialog interaktif. Ada produk pizza, Creamy Jelly Bunga Telang, Sandwich Buah Mangga, Creamy Mangga, Risol Mayo dan Puding Sedot, Lumpia Pisang,dan aneka minuman. Semakin beragam nih produk-produknya para pengusaha muda kita. Mereka sudah punya brand masing-masing secara berkelompok. Diawal acara, satu persatu perwakilan kelompok memperkenalkan produknya dengan membawa sampelnya di atas panggung.