Aktivitas ketahanan pangan kali ini adalah full outdoor dengan memanfaatkan lahan kosong di asrama untuk briefing, penguatan keilmuan lingkungan hidup dan dilanjutkan dengan panen raya singkong dan juga cabe, tomat, terong serta kacang panjang 🤩Adik-adik juga belajar teknik ‘Drip Irigasi’ yang membuat mereka sangat antusias untuk mengetahui serta praktik buka tutup katup saluran air menuju tanaman-tanaman tomat dan juga pepaya.
Di part akhir kegiatan, adik-adik tak lupa untuk membagi-bagi hasil panen kepada seluruh siswa yang hadir. Yang pasti semua wajib kebagian untuk dipersembahkan kepada Ayah/Bunda di rumah. Insya Allah meski sedikit semoga senantiasa berberkah, kita berdoa semoga kelak panen raya nya bisa kebagian jauh lebih banyak. Aamiin .Cerita seru lainnya adalah beberapa siswa tidak membawa wadah hasil panen, nah sebagai Sekolah Alam maka kita harus mampu mewujudkan hal yang solutif dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai wadah pangan. Alhamdulillah di sekeliling asrama Pakatto, Gowa banyak ditumbuhi pohon jati, alhasil adik-adik memakai daun jati tersebut sebagai wadah organik dan aman bagi lingkungan.
Alhamdulillah 😊Sampai jumpa di cerita ketahanan pangan berikutnya 🍃
Adik siswa mengaku pembelajaran jarak jauh ini agak susah dipahami dan jika akan bertanya, kalimatnya susah terangkai. Walaupun susah dipahami, pembelajaran tetap seru karena kakak guru selalu memiliki cara yang menarik. “Kakak Guru sangat interaktif, memperhatikan kami saat belajar. Metode belajarnya juga seru” komentar Syauqi, kelas VII.
Teman Syauqi, Amal, katanya mewakili teman-temannya, senang jika pembelajaran daring dilakukan melalui video tatap muka secara langsung. “Kalau melalui WhatsApp Grup, waktu belajarnya tidak cukup. Saya harus bertanya ulang ke teman atau ke kakak guru dulu, jadi kadang terlambat mengumpulkan tugas.” Hal yang sama juga diakui Bintang (kelas IX). Ia berharap pelajaran Matematika lebih sering dilangsungkan melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting. “Pelajarannya agak susah dipahami jika tidak langsung melihat guru menjelaskan.”
Sama seperti tenaga kesehatan yang berjuang merawat pasien terinfeksi Covid-19, adik-adik siswa juga tetap harus memperjuangkan hak pendidikannya dengan penuh semangat. Adik-adik siswa Le Cendekia tentu sangat berharap pandemi Covid-19 segera mereda sehingga dapat belajar langsung bersama teman-teman dan kakak guru di sekolah. Namun, bagaimanapun kondisi belajar, semoga kita semua tetap menjadi hamba yang selalu bersyukur.
Athursdye mengeluarkan produk utamanya berupa baju kaos warna warni dengan teknik ikat celup (tie dye). “Kami memilih produk ini karena fashion tie dye kini sedang trend, sehingga banyak peminatnya,” jawab mereka saat ditanya mengapa memilih produk tie dye. Terbukti, dalam waktu sebulan, mereka telah memproduksi kurang lebih 200 lembar t-shirt tie-dye dengan pemesanan paling banyak hingga 70 lembar. Masya Allah.
Meski mereka mengakui cukup sulit membagi antara waktu belajar dan waktu produksi, mereka selalu bersemangat karena semua tugas dilakukan bersama. Pembagian kerja promosi dibagi rata sebagai admin Instagram, Line, dan Shopee chat. Proses produksi mulai dari mewarnai, mencuci, dan menjemur juga dilakukan bersama-sama. Pembelajaran dari rumah juga memudahkan siswi-siswi ini untuk tetap bisa bertanggung jawab atas kewajiban belajarnya, juga kewajiban dari keputusan mereka untuk merintis usaha.
Disamping pembagian waktu belajar, mereka juga berjuang ditengah maraknya penjual tie dye di pasaran. Dengan dukungan penuh dari orang tua berupa izin melakukan usaha serta modal awal, mereka sangat bahagia saat menerima notifikasi transfer bukti pembayaran produk. “Paling menyenangkan saat mewarnai baju dan packing. Apalagi sudah dapat notifikasi transfer”, kata Izzah.
Proses produksi sangat membutuhkan ketelatenan dan kehati-hatian. Jika ada baju yang rusak atau salah warna, mereka harus mencari cara agar tidak rugi banyak. Salah satunya dengan menjual baju rusak dengan harga lebih murah.
Hebat ya. Seusia mereka sudah bisa berbisnis dengan omset 5 juta rupiah dan produknya sudah ke berbagai kota di Indonesia sejak mulai rilis tanggal 5 September 2020 lalu. Selain dalam kota Makassar dan Gowa, juga sudah terbang ke Palu, Toli-Toli, hingga Tangerang.
Saat menutup sesi wawancara, mereka berpesan, “Pokoknya buat semua anak-anak Indonesia, tetap semangat untuk berkarya. Kalian berhak untuk bahagia.”
“Jangan insecure, lo keren!” tambahnya. Sukses selalu untuk aset bangsa berkualitas seperti mereka. Semoga semakin banyak lagi anak muda Indonesia yang semakin percaya dengan kemampuan dirinya untuk berkolaborasi. Minweb bangga!
Kakak Guru akhirnya tertarik mengadakan wawancara singkat dengan sang desainer ini. Syauqi, akrab dipanggil Uqi, mengaku memang menyenangi dunia teknologi dan mengakui dirinya sebagai seorang gamers. Sejak 2013, Uqi berkenalan dengan game minecraft dan mulai belajar membuat desain dari game ini. Uqi senang bermain game karena selain bisa melakoni kegemarannya, ia juga bisa belajar bahasa asing dari teman bermain onlinenya dari berbagai negara.
Selain bermain game, Uqi juga senang merekam video lalu mengedit tampilan video tersebut. Di Le Cendekia, kakak guru berusaha mendukung minat dan bakat adik-adik dengan tetap memperhatikan rambu-rambu agar tetap bermanfaat bagi diri sendiri juga sekitar.
Temukan versi terbaik dirimu bersama kami, di Le Cendekia.
Lates News
Indonesia bahkan dunia kini tengah menghadapi pandemi covid-19 yang memaksa masyarakat untuk tetap bisa bertahan hidup sementara banyak yang akhirnya kehilangan pekerjaan dan kesulitan bertahan hidup. Adik-adik siswa dibekali kebiasaan yaitu bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia yaitu makan.
Alhamdulillah terlaksana kegiatan rutin selama pandemi covid-19, yakni program Ketahanan Pangan yang dilaksanakan tiap hari Sabtu di kebun Le Cendekia, Pakatto Caddi Gowa, tentunya dengan protap kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 di lingkungan sekolah.
Adapun agenda hari ini 15/08/2020 adalah sebagai berikut:
1. Gardening Tour
2. Memanen
3. Menanam
4. Menebar Benih Ikan
5.Mengolah Hasil Panen
Antusiasme adik-adik siswa sangat terlihat ketika briefing dimulai , beberapa siswa menyahut “ayok kak, kita keluar”, rupanya mereka sudah tak sabar untuk melihat hasil semaian dan juga hasil tanam beberapa pekan lalu. Alhamdulillah terbukti ketika adik-adik keluar gardening tour sembari memanen tomat, terong juga diakhiri dengan panen pakcoy putih. Puncak dari proses berkebun adalah ketika “Panen Raya” tiba , apalagi tanaman yang dipanen adalah hasil semaian dan hasil tanam sendiri. Bahagianya tiada tara, Alhamdulillah.
Tak lupa pula kakak guru PLH, Kak Asdi selaku mentor selama program Ketahanan Pangan mengingatkan untuk tetap selalu menjaga jarak, dan tentunya menyiapkan air minum dalam botol masing-masing untuk diminum di sela kegiatan berkebun. Bagian yang paling ditunggu selain memanen adalah menebar benih ikan Nila sebanyak 150 ekor ke dalam kolam ikan tepat berdampingan dengan kebun Le Cendekia. Setiap siswa diminta mengambil peran tanpa terkecuali, dan Raihan paling terakhir memindahkan ikan agak sedikit kewalahan mengingat ikannya sisa sedikit dan cukup lincah untuk menghindar dari jaring ikan.
Kebahagiaan mereka tak berhenti sampai disitu namun masih ada proses mengolah hasil panen bayam merah serta bayam hijau menjadi keripik bayam , Alhamdulillah berkat bimbingan dan pendampingan kakak guru di dapur, mereka mampu menghasilkan rasa yang sungguh enak, gurih, garing tepat sekali untuk disantap siang jelang sore hari sebelum balik ke rumah masing-masing.
Harapannya semoga program ini terus berlanjut, bahkan tidak hanya pandemi saja melainkan setelah pandemi berakhir sekalipun “Ketahanan Pangan” menjadi aktivitas rutin yang mampu mendorong semangat berkebun adik-adik siswa baik di rumah maupun di sekolah. Selain semangat, mereka pun dituntut untuk mencintai lingkungan melalui aktivitas berkebun ini, karena salah satu prinsip pekebun adalah “Menunda menanam sehari maka akan menunda memanen sehari”.
Memasuki Bulan Dzulhijjah, pembelajaran di Le Cendekia menyesuaikan materi belajar agar sesuai konteks, yakni tentang BERKURBAN. Tema ini menyusup mulai dari mata pelajaran logika dan problem solving hingga kajian Islam daring.
Pada pelajaran logika problem solving, siswa diminta pendapatnya setelah diputarkan sebuah video tentang ‘konflik’ seorang anak dengan ayahnya yang bekerja sebagai badut penghibur bagi para yatim dan orang-orang sakit. Satu pekerjaan yang dianggap tak bernilai oleh sang anak. Video pendeknya sendiri berakhir manis, dengan menekankan pada pemahaman bahwa,
“Hidup bahagia itu, bukan seberapa banyak yang engkau miliki, namun seberapa banyak yang engkau berikan.”
Kajian Islam yang di asrama kami biasanya dilakukan setelah sholat Isya – pukul 9 malam, selama daring tetap dilakukan pada jam yang sama. Semalam membahas tentang perintah berkurban serta perintah untuk tidak memotong kuku dan rambut bagi mereka yang akan berqurban.
Sejumlah anak mengajukan pertanyaan yang menggelitik, mereka benar-benar memfungsikan kemampuan berfikir logisnya.
“Ustadz, kenapa hanya beberapa hewan yang dikurbankan (selain yang haram)?”
“Bagaimana dengan hukum-hukum seperti potong rambut, potong kuku… Bapakku pernah menunggu dulu kambing yang dibelinya disembelih, baru mau potong kukunya. Nah.. mengapa ?
“Apa tidak ada alasan lain selain karena sunnah?”
Apa nyambungnya potong kuku sama qurban?
Luar biasa pertanyaan-pertanyaan mereka. Kajian daring saja sampai serius itu mereka gentian bertanya, bahkan mengejar dengan pertanyaan berikutnya demi menuntaskan pemahaman.
Semangat belajar, semangat mencari dan menuntut ilmu, dengan terus mempedomani Al Qur’an dan Sunnah, semoga terus mewarnai aktifitas belajar di LC agar kelak menjadi Generasi Pemakmur Bumi.
Home Economy merupakan salah satu program Unggulan dari Le Cendekia. Sebuah upaya menggaungkan pentingnya berwirausaha sejak muda, sebagaimana Rasulullah yang memulai berdagang di usianya yang masih muda. Salah satu produk Home Economy yang lahir di tengah Covid-19 adalah @de.sruput.
Owner @de.sruput mendapatkan kehormatan untuk mempresentasikan Home Economy, salah satu program unggulan Le Cendekia di depan para orangtua siswa baru dan keluarganya saat penerimaan siswa baru secara resmi, kemarin di Kampus Pakatto Gowa.
Dengan penuh percaya diri, putri ibu Surdatwiyati Khomeiny ini (SMP, kelas 8) menguraikan bagaimana ia menjalankan usahanya berbekal modal seratus ribu yang dipinjamkan dari sekolah. Ia melakukan semuanya, mulai dari memikirkan ide ‘sesuatu’ yang akan dibuat, lalu mencari dan membeli kemasan yang dianggapnya cocok, mendesain sendiri label kemasan, hingga memasarkannya di instagram.
Apa hanya dia seorang yang melakukannya? Tentu tidak, Hal yang sama juga dilakukan oleh putra ibu Tenri Baharuddin nun jauh di Bone sana, juga siswa siswi lainnya. Kami mendorong semua siswa untuk mengmbangkan kemampuan enterpreunership-nya melalui program home economy, bahkan di tengah pandemic. Home Economy adalah bagian dari aktivitas kurikulum Bisnis yang dijalankan di Sekolah Alam, termasuk Le Cendekia. Aktivitas ini didukung dengan sangat baik oleh semua orangtua siswa, dengan ramai-ramai membeli produk yang turut memeriahkan kegiatan PSB kemarin.
Keren ya… Sukses terus buat @de.sruput, semoga terus berkembang yaaa..
Selamat jalan, pemuda generasi pertama. Pemuda garis depan awal perjalanan kami. Kalian adalah sejarah.
Alhamdulillah. Tanggal 27 Juni 2020 Le Cendekia meluluskan 6 alumni pertamanya.
Le Cendekia yang awal dimulainya di dua gedung ruko berhadapan dalam kompleks perumahan di kabupaten Gowa ini dipercayakan oleh 5 pasang orang tua untuk anaknya belajar bersama.
Masih terekam baik perjalanan selama 3 tahun bersama pemuda-pemuda generasi awal ini. Dengan 5 siswa, ruang belajar tidak pernah sepi sebagaimana anda membayangkan sebuah sekolah dengan 5 siswa serta 5 guru dan seorang staf yang hadir sepanjang hari. Jumlah yang tidak seberapa ini mungkin yang membangun kelekatan dan mencipta keceriaan. Semua hadir, semua dianggap ada, semua menjadi diri sendiri. Mudah saja guru-guru merencanakan pembelajaran luar ruangan, atau makan-makan bersama setelah jam sekolah berakhir. Mudah saja bagi para siswa memahami sekolah mereka yang baru dirintis, mudah saja bagi mereka menikmati genangan air di depan ruko ketika musim penghujan di akhir tahun datang.
Masih teringat jelas bahagianya saat seorang teman akhirnya bergabung, menjadikan mereka akhirnya berjumlah enam orang. Lalu tahun berikutnya hadir adik kelas angkatan kedua. Sekolah semakin ramai, perasaan ingin segera pindah ke gedung baru berkecamuk setiap berkunjung ke lahan tempat gedung sekolah dibangun.
Setahun terakhir, enam generasi perdana akhirnya menikmati belajar penuh hari di asrama yang akhirnya bisa digunakan. Meski efektif hanya kurang lebih satu semester, semoga sekolah tetap menjadi rumah kedua bagi para alumni. Kami selalu menunggumu pulang, bercerita satu kisah tentang awal sekolah kita.
Alhamdulillah tunai sudah perjalanan selama 3 tahun siswa-siswa sulung kami di Le Cendekia Boarding School. 2017-2020 waktu yang sangat singkat dengan banyak nya ilmu serta keahlian yang mesti dipelajari.
Dari keenam siswa perintis ini sudah sangat mampu menguasai kemandirian dalam segala hal , jangankan urusan keahlian, petualangan dan main bola bahkan urusan masak pun mereka ahlinya ketika di dapur 🤩
Di Akhir sesi semua siswa diminta untuk menanam sendiri “pohon keberkahannya”, berharap kelak beberapa tahun mendatang mereka balik berkunjung ke asrama sudah dapat menikmati manisnya mangga, manggis, sawo, jambu dan nangka serta lezatnya sukun yang telah digoreng 🌴
Alhamdulillah, tetaplah membumi sekalipun impian kalian setinggi langit. Barakallahu fiikum 🤲🏻
