SEARCH
Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Lates News, Student Corner
Gowa,- Wujudkan kemandirian pangan sehat, bergizi, halal untuk sekolah, Le Cendekia luncurkan program Le Ternak.

Berlatar belakang sekolah alam, Le Cendekia tentu saja mematenkan belajar bersama alam sebagai metode. Siswa sebagai pemeran utama, mereka juga pantik untuk kesadaran ketahanan dan kemandirian pangan, pemenuhan bahan makan bergizi, juga sejalan pola pikir gaya hidup sehat siswa.

Fokus giat ini tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, aktivitas praktis jadi penyempurna pemahaman siswa, dan demi kontribusi pada kemandirian pangan sekolah, sebagai peyedia sumber makanan yang bergizi, sehat, dan halal.

Direktur Le Cendekia, Dra. Andi Olle Mashura menuturkan, giat ini sangat bagus bagi sekolah dan semua civitas sekolah, khususnya siswa. Siswa juga diajak untuk melatih kemampuan 4C (Critical Thingking, Collaboration, Communication, Creativity).

“Program Le Ternak sangat bagus, Apalagi dengan adanya hasil karya alat penetasan telur dan alat pencacah pakan yang dibuat sebagai projek penyelesaian masalah yang dihadapi dalam program (red)” tuturnya, Ahad (19/1/2025).

Kepala Sekolah Le Cendekia, Kak Zul Sapaan akrabnya menuturkan, program ini sejalan dengan visi Le Cendekia untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk menerapkan pembelajaran berbasis alam,” ungkapnya.

Ia berharap, Semoga dengan program ini, siswa Le Cendekia Boarding School dapat menjadi individu yang mandiri dan peduli terhadap lingkungan serta mampu berkontribusi positif bagi masyarakat. Aamiin.

Terpisah, Pelaksana Program, Zidan, Siswa Le Cendekia, Giat ini menjadi bekal hidup kedepannya, Diferensiasi jadi landasan senangnya siswa belajar sesuai dengan minat dan keahlian individu.

Zidan mengakui program yang sudah menjadi giat sekolah itu memberikan pemahaman baru untuknya. kuncinya.

“Saya sangat senang dengan program ini karena sesuai dengan minat dan cita-cita saya untuk masa depan,” ungkapnya.
0

Event, Lates News, Student Corner

Tidak sah rasanya ke Malang tanpa mengunjungi tempat-tempat wisata ‘wajib’nya.
Kemanakah rombongan Field Trip menjelajah pada hari ke-6 dan ke-7? 


Kemana lagi selain ke Jatim Park I, Jatim Park II, Jatim Park III dan Museum Angkut. Bukan, bukan sehari langsung ke 3 lokasi ini.Hari ke-6 adalah hari bebas, jadi ada sebagian kelompok yang memilih lokasi lain dan ada juga sekelompok yang begitu bahagia menghabiskan waktu seharian di Jatim Park II.


Lanjut…

Nah, kabarnya sekelompok generasi pemakmur bumi puas sekali menjelajahi lokasi seluas 14 hektar di Jatim Park 2 atau yang juga dikenal Batu Secret Zoo ini. Sesuai namanya, disini pengunjung bisa melihat berbagai satwa dari berbagai habitat. Masya Allah, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya mengizinkan para satwa ini bisa tetap hidup diluar habitat aslinya. Tidak lupa, ada sejumlah wahana yang seru untuk dijelajahi bersama teman disini.


Keesokan harinya menjelajah ke Jatim Park I tak kalah seru karena sudah full team. Disana, adik-adik belajar tentang suku dan kebudayaan Indonesia, sejarah, dan menikmati wahana permainan yang cukup menantang. Permainan seru usia remaja adalah permainan yang berhasil mengocok perut 🥴 Mamak-mamak macam minweb silakan melipir istirahat.


Puas di Jatim Park, lanjut ke Museum Angkut. Rayhan (kelas IX) cukup menikmati kunjungan ke museum ini. “Saya suka mobil-mobilnya“.


Museum Angkut ini memamerkan beraneka ragam alat transportasi kuno dan modern, bukan hanya mobil. Ada juga kendaraan lainnya. Allah berikan kemampuan berupa ilmu kepada manusia untuk merakit ratusan kendaraan yang ada disini, sebagai tanda kebesaran-Nya untuk kita bersyukur dan terus menempa diri agar juga bisa menghasilkan karya yang bermanfaat. Insyaa Allah.
0

Artikel, Lates News, Student Corner

Sahabat Le Cendekia yang kalau ke Benteng Rotterdam hanya berkeliling di halamannya, ayo ngacung… Hehe. 


Dear readers, dengan mempelajari sejarah pemahaman kita tentang sebuah tempat menjadi lebih dekat. Kita jadi bisa menemukan kisah yang sudah terjadi ribuan tahun lamanya, belajar akan perjuangan hidup masa lampau, dan mensyukuri nikmat yang kita jalani hari ini. Di dalam Al-Quran pun banyak diceritakan sejarah-sejarah perjuangan Islam. 

Hari terakhir kegiatan #eduwisatagowamakassar2023 Senin, 29 Mei 2023 diikuti oleh seluruh peserta eduwisata (tidak lagi dibagi per-kelompok) karena Benteng Rotterdam adalah tujuan kunjungan terakhir. Mereka berkumpul di Benteng Rotterdam yang beralamat di jalan Ujung Pandang, Bulo Gading, Kec. Ujung Pandang, Kota Makassar. Untuk mencapai lokasi ini, anak-anak petualang ada yang menggunakan moda transportasi #temanbus Transmamminasata dari halte Mal Panakukang menuju Halte Karebosi kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus dan turun di Halte Toko Oleh-Oleh. Dengan berjalan kaki sebentar, tiba deh di lokasi.


FYI, tiket masuk ke benteng pertahanan pada masa penjajahan Belanda ini dibanderol dengan harga Rp 5000,- untuk orang dewasa dan Rp 3000,- untuk anak-anak (termasuk pelajar), jika ingin sepaket dengan pemandu wisatanya maka perlu merogoh kantong lebih dalam sebesar Rp 200.000,-. Kalau mau benar-benar mendapatkan informasi lebih dalam direkomendasikan untuk bersama pemandu. Sekian informasinya, yuk lanjut…


Well, sebelum masuk, ada briefing yang dikawal oleh Ustadz Fauzan (penanggung jawab eduwisata Gowa-Makassar) dan ada pengarahan juga dari pemandu dari pengelola museum. Yes! Di dalam benteng ini merupakan museum yaitu Museum La Galigo yang di dalamnya pengunjung bisa mengulik sejarah Gowa dan Makassar lebih dalam. 


Bangga sekali melihat anak muda yang bersemangat belajar sejarah, Masya Allah… Lebih bangga lagi karena mereka bahkan bisa menjawab beberapa pertanyaan pemandu tentang sejarah sebelum masuk museum🤩 Sekolah dimana dek? Di Le Cendekia dong yaa. Alhamdulillah…


Berkeliling museum mungkin bukan hal baru bagi adik-adik ini, kehadiran pemandu sangat membantu mereka melengkapi pengetahuannya tentang Gowa dan Makassar. Berkunjung ke Museum La Galigo semacam merangkum kunjungan ke tempat sejarah lainnya di hari sebelumnya. Sejarah Masjid Katangka sebagai masjid pertama, diceritakan disini. Juga Balla Lompoa sebagai peninggalan kerajaan Gowa Tallo,  disampaikan disini. 


Yang tidak terpikirkan, adik-adik mengenakan seragam rompi biru disangka mahasiswa oleh pengunjung lainnya.


 Apakah mereka terlihat sudah cukup dewasa dalam bersikap sebagai pengunjung museum? 🤭

0

Artikel, Event, Lates News, Student Corner
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath Tabrani)

Generasi pemakmur bumi dari Sekolah Alam Le Cendekia Boarding School kembali hadir di tengah-tengah murid sekolah dasar untuk mencoba membagikan pengetahuan yang dimilikinya. Sekolah Dasar yang bersedia menerima program Le Menginspirasi pada momen berbagi di bulan Ramadhan kali ini adalah UPT SD Negeri Bontokamase, Kabupaten Gowa. 

Adik-adik siswa berbagi pengalaman sesuai dengan bidang peminatannya di kelas PKBM, yaitu Agroteknologi, Videografi – Fotografi, Crafting – Lettering, dan Menulis. Masya Allah, ternyata tidak perlu menunggu memiliki profesi tertentu untuk berbagi seperti kegiatan kerelawanan berbagi inspirasi. Siswa SMP dan SMA kami melakukannya. 

Siswa dari kelas Agroteknologi mengenalkan bunga rosella dan bunga telang kepada siswa SD Negeri Bontokamase. Mereka juga berbagi pengalaman bagaimana mereka mengolah bunga ini menjadi makanan ataupun minuman yang bukan hanya menarik, tapi juga sehat karena bersumber dari bahan alami. Wah, adik-adik SD yang belum tahu jenis bunga ini, bisa mencobanya juga di rumah.

Adik-adik SD juga diajarkan teknik-teknik pengambilan gambar menggunakan handphone oleh siswa-siswi pegiat kelas Fotografi dan Videografi. Setelah mengenalkan teknik pengambilan gambar, mereka juga berbagi tips dan trik dalam proses editing video. Masya Allah, semoga melahirkan kreator video yang profesional dari berbagai inspirasi ini deh.


Yang seru dari kelas Crafting adalah siswa SD diajak membuat aksesoris dari macrame. Dengan penuh ketelatenan, perwakilan kelas Crafting berbagi pengalaman cara membuat aksesoris macrame ini. Begitupun perwakilan kelas Lettering, mereka menyediakan alat bahan untuk menulis indah dan mengajak adik siswa SD untuk mencobanya. 

Dawi, siswa kelas VIII, salah seorang siswi yang sudah melahirkan karya berupa tulisannya dalam buku yang diterbitkan PKBM menulis juga berbagi pengalamannya dalam menulis. Ia bercerita pengalaman menulis dan kesenangannya dalam menulis. Alhamdulillah, salah satu gerakan menumbuhkan giat literasi ditunaikan oleh adik Dawi dan semoga bisa menginspirasi adik-adik SD yang turut menyimak. Aaamiiin.


Siswa menginspirasi siswa lainnya, menjadi ajang belajar kompleks bagi siswa-siswi kami. Dari kegiatan ini mereka bukan hanya belajar berbagai pengalaman, namun juga belajar mempersiapkan kegiatannya, belajar mempresentasikan pengalaman di depan orang banyak, serta belajar menjalin silaturrahim kepada masyarakat lebih luas. 


Terima kasih pihak UPT SD Negeri Bontokamase yang telah memberi peluang kepada adik-adik untuk berbagi pengalaman, semoga menjadi langkah silaturrahim yang tidak pernah putus yang diridhai oleh Allah. Aaamiin.
0

Artikel, Event, Lates News, Student Corner
Mengawali rangkaian cerita di asrama selama Ramadhan ini, minweb menginformasikan bahwa menu ifthar dan makan malam seluruh warga asrama berasal dari donatur yang baik hati menyediakan hidangan bagi pemuda pemudi yang berpuasa ini. Agar tidak kehilangan momentum masak-masak bersama yang rutin dilaksanakan di hari biasa saat mendapat piket memasak, maka satu hari ini diadakan lomba memasak sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Pada perlombaan ini, siswa dibagi menjadi 4 kelompok. Mereka diberikan tantangan untuk memasak menu iftar dan lauk makan malam untuk disantap oleh 12 orang. Sungguh menantang ya, artinya makanan tidak boleh gagal karena jika gagal maka ada 12 orang yang tidak bisa berbuka puasa. 


Catatan penting dalam lomba memasak kali ini adalah peserta dibatasi menggunakan maksimal 2 produk olahan saja. Artinya, bahan memasak yang diperlukan diwajibkan lebih banyak berasal dari bahan alami.  Kebiasaan-kebiasaan memasak kreatif dengan bahan alami perlu terus digalakkan mengingat telah banyaknya produk olahan yang tersedia di pasaran membuat penggunaan bahan alami kurang dilirik lagi.

Panitia perlombaan telah menyediakan pasar mini berisi bahan makanan yang dapat dibeli oleh para peserta dengan budget maksimal pembelian Rp 200.000,-. Bahan makanan tambahan yang peserta perlukan boleh dipetik langsung dari kebun sekolah, Le Keboon. Dengan waktu terbatas, peserta menentukan akan memasak menu apa dan mencatat bahan-bahan yang diperlukan kemudian memilih kebutuhannya segera dalam durasi singkat.

Perlombaan ini mengajak siswa mengimplementasikan 7 pilar cendekia. Sebelum bekerja dalam kelompok, mereka memahami dirinya akan mengambil peran sebagai apa yang mampu bekerja sama dengan teman sekelompoknya. Peserta membutuhkan kemampuan berkomunikasi dan mengambil keputusan dengan tepat, serta mampu mengambil hikmah dari langkah-langkah yang dilakukan selama proses memasak bersama teman.

Setelah selesai, peserta pun wajib mempresentasikan hasil masakannya dengan menarik. Alhamdulillah, hasil memasak siswa-siswi Le Cendekia terbilang selalu sukses memanjakan lidah seluruh warga.

Readers mau dimasakkan apa nih sama warga Le Cendekia?
0

Artikel, Lates News, Student Corner

Di Le Cendekia, ada kelas Agroteknologi lho! Minweb kali ini mau mengajak readers untuk mengenal lebih dekat kelas yang merupakan salah satu pilihan kelas PKBM yang dilaksanakan setelah jam pelajaran wajib. Seperti namanya, Agroteknologi, kelas ini mengajak adik siswa agar mampu menguasai teknologi untuk memanfaatkan hasil pertanian dengan memperhatikan kualitas dan efisiensi sehingga menjadi suatu produk. Aktifitas di kelas Agroteknologi ini menjadi cikal bakal pengembangan usaha produktif bagi siswa yang bergabung di PKBM Agroteknologi.

Kelas Agrotek ini sejalan dengan konsep sekolah alam, yakni alam semesta dimana proses pembelajaran disekolah alam yang bersentuhan langsung dengan alam serta metode active learning dan pengalaman yang berarti proses pembelajaran melakukan experimental learning, sehingga adik-adik memiliki pengalaman belajar langsung dan bermanfaat.

Sebagai salah satu kelas PKBM, peserta kelas terdiri dari campuran kelas 7, 8, dan 9 SMP serta kelas X SMA. Mereka yang tergabung di kelas ini atas pilihan atau inisiatif mereka sendiri seperti yang sebelumnya miweb ceritakan disini. Bagi Kak Lisa sebagai fasilitator kelas , beragam tingkatan yang ada di kelas Agroteknologi menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan masing-masing. Sehingga melalui pendekatan minat dan potensinya, ia memberikan pendampingan dan memfasilitasi adik-adik untuk  memanfaatkan dan mengolah sumber daya yang tersedia.


Kelas Agroteknologi yang memiliki garis besar pembelajaran terkait Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian memberikan kesempatan bagi pemuda pemakmur bumi  untuk mengeksplorasi minat mereka dalam menciptakan produk pangan. Kelas ini dilaksanakan dengan 2 kali pendampingan selama sepekan pada hari Selasa dan Kamis, serta kelas mandiri pada hari Senin dan Rabu. Pada kelas pendampingan, peserta menerima materi dan melaksanakan eksperimen atau praktikum dengan pendampingan fasilitator di kelas maupun di laboratorium. Sedangkan pada kelas mandiri peserta memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi minat mereka yang berhubungan dengan Agroteknologi secara mandiri tanpa pendampingan. Baik berupa aktivitas mencari ide-ide menarik, menyelesaikan logbook praktikum, mengolah hasil kebun, menjual produk hasil olahan masing-masing, dsb.

Kelas ini memiliki garis besar rencana pembelajaran terkait Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian, yaitu siswa mengetahui prinsip perubahan dan penanganan pascapanen, mengetahui penyebab kerusakan bahan hasil pertanian, mengetahui prinsip pengawetan hasil pertanian, mengetahui cara-cara pengolahan pangan baik secara fisik, kimiawi ataupun  biokimiawi. Siswa juga diharapkan mampu mengetahui prinsip penggunaan bahan tambahan pangan, serta mengetahui prinsip dan cara pengemasan pangan.

Pelaksanaannya lebih banyak ditentukan oleh apa yang adik siswa ingin pelajari yang berdasarkan garis pembelajaran tersebut. Misalnya ada adik yang ingin mengolah pisang hasil kebun, nah dalam proses pengolahan inilah mereka akan mengetahui  cara pengolahan yang baik, perubahan dan kerusakan akan yang terjadi,  cara mengawetkannya, fungsi bahan tambahan yang digunakan, dan cara pengemasan yang mampu menjaga dan memiliki tampilan menarik. Complete!

Ketersediaan bahan pangan dari kebun LC mendorong peserta kelas untuk menggali ide-ide mereka dalam mengolah dan memanfaatkan hasil kebun. Seperti ketika lagi musim bunga rosella, mereka akan mencari ide produk olahan Rosella apa yang menarik untuk dibuat. Ketika bunga telang di kebun sedang berbunga lebat, maka mereka diarahkan untuk menggali ide-ide produk apa saja yang dapat dikembangkan dengan bahan baku bunga telang. Nah dari situlah, akan muncul ide-ide menarik baik produk yang saat ini lagi trend atau sangat ingin mereka coba rasanya. Ide-ide inilah yang akan kita diskusikan dan sesuaikan dengan fasilitas yang tersedia. Produk yang berhasil adik-adik buat meningkatkan antusias adik-adik untuk terus mengembangkannya, apalagi ketika mereka mencoba rasanya dan bisa menjualnya.

Alhamdulillah, benar-benar pelajaran langsung dan tepat guna ya! Adik-adik yang senang bereksperimen pasti betah di kelas ini. Semangat terus, kak Lisa dan adik-adik kelas Agrotek… Minweb tunggu produk-produk menarik selanjutnya ya..
0

Artikel, Event, Lates News, Student Corner

Awal tahun selalu identik dengan musyawarah tahunan atau rapat kerja (RAKER) yang diadakan oleh institusi maupun organisasi sebagai tanda dimulainya harapan baru selama setahun kedepan. Dalam rapat ini, biasanya diadakan refleksi program kerja yang telah dilakukan sebelumnya dilanjutkan dengan penyusunan program-program baru yang lebih segar. Harapan yang tersusun dalam rapat kerja diharapkan menjadi semangat baru bagi seluruh anggota untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.

Rapat kerja guru  dan tim Le  Cendekia yang dilaksanakan diakhir tahun, tanggal 28 – 31 Desember 2021 melahirkan program-program yang tentunya lebih fresh untuk disugukan kepada penikmat pendidikan Le Cendekia, siswa-siswi tercinta. Kakak guru terus berinovasi demi tercapainya tujuan pendidikan bagi seluruh warga belajar termasuk memberikan rasa aman dan nyaman di sekolah. Salah satunya adalah dilaksanakannya Rapat Kerja Siswa yang difasilitatori oleh kakak guru untuk menyusun aturan kehidupan berasrama.


Selama sepekan diawal semester genap, diadakan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) ala anak sekolahan yang diperkenalkan dengan istilah Rapat Kerja Siswa Le Cendekia. Ya, kini giliran adik siswa yang melakukan musyawarah untuk keberlangsungan kehidupan mereka di asrama. Minweb tegaskan, siswanya yang rapat, bukan kakak gurunya. Waktunya siswa yang membuat aturan, bukan kakak guru lagi. Mengapa di Le Cendekia berbeda?

Secara sadar, hidup berasrama bagi anak-anak yang membawa kebiasaan dari berbagai latar kehidupan keluarga yang berbeda tentu memerlukan aturan yang seragam yang berlaku di sekolah dan diharapkan menjadi kebiasaan baik untuk dibawa pulang ke rumah. Selama Le Cendekia berdiri, siswa selalu dilibatkan dalam penyusunan aturan bersama kakak guru. Namun pada semester ini, dengan harapan agar siswa benar-benar memeluk aturan bersama maka dibuatlah Rapat Kerja Siswa dimana siswa sendiri yang memimpin dan mengatur berjalannya rapat, serta mencatat dan membuat keputusannya secara musyawarah. Kakak guru mendampingi jika dibutuhkan.



Pokok pembahasan pertama dalam Rapat Kerja Siswa ini adalah Adab Pergaulan, mereka membahas hal-hal yang mereka sukai dan tidak sukai dalam berteman sehingga lingkungan pertemanan yang sehat dan menyenangkan bisa tercipta. Para pemimpin muda ini kemudian memutuskan beberapa hal yang perlu diberikan konsekuensi jika ada yang melanggar diantaranya berkata kasar dan menyentuh/ memakan barang teman tanpa izin. Selanjutnya, adik-adik membahas pembatasan area antara siswa laki-laki dan perempuan demi tidak bercampur baurnya mereka dalam berkegiatan.

Siswa siswi juga membahas mengenai santapan menu harian mereka agar tetap bervariasi dan memberi saran menu kepada penanggung jawab dapur. Keteraturan alat-alat yang dipakai bersama serta jadwal keseharian dan pembelajaran tidak luput dari pembahasan. Termasuk juga ketertiban barang-barang yang dibawa dari rumah, semua dibahas secara detil.

Pembahasan tanggung jawab bersama dalam pemeliharaan fasilitas dan asrama melahirkan daftar panjang saran/ permintaan pemenuhan fasilitas kepada pihak sekolah. Permintaan fasilitasnya cukup sederhana seperti jam dinding yang belum semua kamar miliki juga gantungan baju. Tidak lupa, mereka juga membahas proses pembelajaran sekolah dan aktifitas hari Jumat yang dirasa cukup padat.

Poin-poin pembahasan dalam Rapat Kerja Siswa ini kemudian disosialisasikan kepada seluruh warga LC untuk diperhatikan dan dilaksanakan sebagaimana hasil yang tekah disepakati. Begitulah kami berusaha membangun kepercayaan diri, semangat bermusyawarah, serta memupuk rasa tanggung jawab peserta didik. Semoga dengan langkah yang ditempuh ini, anak bangsa yang dipercayakan orang tuanya untuk tumbuh bersama Le Cendekia memetik hikmah pembelajaran yang bermanfaat bagi kehidupan mereka kini dan nanti.



Itu harapan kami sebagai tim, lalu apa tanggapan adik siswa mengenai Raker ini? Minweb mencoba menggali sedikit kabar dari mereka lho. “Di raker, kami membuat aturan asrama dan konsekuensinya agar kita lebih nyaman berasrama dan bisa menerima konsekuensi lebih ikhlas jika melanggar aturan”. Ocha, kelas IX berharap ini akan efektif karena teman-teman peserta rapat cukup antusias dalam pembahasan meski kadang merasa bosan. Adik-adik merasa sangat berkesan saat menjadi moderator atau notulen rapat karena bisa memimpin rapat. Terima kasih atas kesempatan yang berharga ini, ya, kakak Guru!

0

Artikel, Lates News, Student Corner

Siapa bilang hanya negara yang butuh wakil rakyat? Di sekolah, tempat anak belajar bermasyarakat pertama kali tentu butuh wakil yang dapat mewakili aspirasi dan membantu penyelesaian masalah yang kerap terjadi antar siswa dan warga sekolah yang lain.


Di Le Cendekia, kami menyebutnya wakil siswa. Mereka dipilih secara langsung oleh seluruh warga sekolah. Tugas utama wakil siswa ini sendiri adalah menyampaikan aspirasi siswa kepada kakak guru, menjadi jembatan informasi dari kakak guru ke teman siswa yang lain, termasuk memandu pelaksanaan rapat besar se-warga  Le Cendekia yang dikenal dalam agenda Le Share n Care.

 

Telah berlangsung Pemilu Raya se-LC pada hari Kamis, 15 Juli 2021 untuk memilih wakil siswa periode tahun ajaran 2021-2022. Sebanyak 10 siswa menjadi kandidat wakil siswa dalam pemilihan ini, ada yang dicalonkan teman juga ada yang mencalonkan dirinya sendiri. Ya, mereka bisa mencalonkan dirinya sendiri untuk dipilih, tanda adik-adik percaya akan kemampuannya menjadi wakil siswa. Bahkan, pada Pemilu kemarin, ada salah seorang adik siswa yang mengaku menyesali dirinya saat SD tidak berani mencalonkan diri karena merasa malu. Saat ini ia berhasil menjebol tembok rasa malunya. Proud!



Para calon wakil siswa ini masing-masing memaparkan visinya jika terpilih sebagai wakil siswa sebagai pertimbangan bagi warga untuk memilihnya. Ada yang ingin menciptakan LC yang lebih baik, menjadi contoh yang baik,mengakui dirinya telah berpengalaman, akan berlaku adil, dan ada juga yang ingin mencari pengalaman baru. Pengalaman sebagai wakil siswa tentu tidak akan terlupakan ya, siapa yang tahu akan ada juga yang akan menjadi wakil rakyat nanti.

Pemilu raya ini berlangsung semi daring karena sebagian warga masih belajar di rumah. Salah seorang kandidat bahkan mengenalkan dirinya melalui video call. Siswa yang masih belajar daring di rumah memenuhi hak suaranya melalui chat whatsapp. Kakak guru, staf, dan tim juga mendapat hak suara loh. Bagi yang sedang tidak berada di asrama, juga memenuhi hak suaranya melalui pesan teks. Adik spesial pun ikut memilih dibantu oleh kakak guru pendamping khusus. Semua memilih.

Adik Siswa Spesial Memilih Dengan Bantuan Pendamping

 

Hebat sekali para kandidat wakil siswa Le Cendekia ini, saat perhitungan suara berlangsung, mereka duduk berdekatan. Seperti saling mendukung satu sama lain dan ikhlas atas apapun hasil akhirnya. Mereka tahu, mereka bukan bersaing. Mereka paham, mereka sedang belajar.


Akhirnya terpilihlah 5 wakil siswa yang akan menjalankan amanah ini dengan penuh dedikasi. Wakil siswa dengan jumlah pemilih terbanyak dicalonkan oleh teman-temannya, bahkan yang bersangkutan tidak hadir di tempat pemilihan. Selamat menempa diri sebagai wakil dari teman-temanmu, adik-adik! Semoga dengan tanggung jawab yang diemban ini menjadi jalan tumbuhnya pemimpin-pemimpin terbaik umat Islam dan Indonesia di masa depan. Paling penting, menjadi pemimpin yang baik bagi diri sendiri sebagai hamba Allah. Barakallahu fiikum.


0