SEARCH
Your address will show here +12 34 56 78
Event, Lates News

Alhamdulillah bisa Outing Class! Sejak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, pembelajaran kelas menjadi sangat terbatas. Meski di Le Cendekia kami tetap ada kegiatan outdor di sekitar asrama, rasanya bagai angin segar saat mendapat undangan dari program IPTEKS Bagi Masyarakat (IbM) yg dilaksanakan oleh Depatemen Teknik Mesin, Universitas Hasanuddin.


Hari Rabu, 28 Juli 2021 dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, 10 orang adik siswa dan 3 kakak guru pendamping datang ke Fakultas Teknik Unhas Gowa. Sepuluh orang adik siswa yang beruntung adalah 8 siswa kelas X dan 2 wakil siswa kelas IX. Program ini mendukung program unggulan untuk jenjang SMA di LC yaitu program Agro Teknologi dan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang diharapkan bisa menjadi bekal pengetahuan awal bagi adik siswa.



Outing class ini diawali dengan materi tentang pengenalan pembangkit listrik tenaga surya dan materi tentang smart hidroponik yang dibawakan oleh dosen dari Departemen Teknik Mesin FTUH. Selanjutnya adik-adik diajak berkeliling ke 2 laboratorium yang ada di departmen teknik mesin yaitu laboratorium Robotika dan Laboratorium Metalurgi Fisik. Adik-adik antusias mendapat penjelasan mengenai perangkat dan produk yang ada di laboratorium tersebut.



Dari outing class ini adik siswa mendapat kesempatan berdiskusi dengan pakar keilmuan teknologi yang biasa mereka dapatkan di keseharian mereka. Adik Annisa kelas X menanyakan mengenai biaya penggunakan listrik PV (Photovoltaic), mengapa tidak digunakan di rumah-rumah sebagai sistem listrik secara mandiri. Tentu ini hasil dari pengamatan adik siswa di kesehariannya yang selalu diingatkan untuk menghemat penggunaan listrik di rumah. Tidak lupa, adik Annisa juga menanyakan hambatan dan pengalaman yang ia dapatkan di kebun hidroponiknya.



Pengalaman langsung memang memberi pelajaran terbaik ya. Semoga Le Cendekia bisa terus memberi pengalaman belajar langsung bagi adik siswanya agar lebih bermanfaat. Aaamiiin

0

Artikel, Event, Lates News

Usia berapa panitia pemotongan hewan qurban di tempat parents? Di tempat minweb sih panitianya rata-rata usia dewasa. Usia remaja cukup membantu sedikit-sedikit, paling banyak kebagian menjadi tim distribusi daging ke rumah warga.


Di Le Cendekia, panitia utamanya justru usia SMP dan kelas X SMA. Mereka bisa apa? Dari proses membantu pemotohan hewan qurban, menguliti, memotong kecil-kecil, menimbang, mengemas, hingga pendistribusian termasuk pengawasan dan dokumentasi semua dipercayakan ke adik siswa dengan pendampingan kakak guru. Terkecuali tukang jagalnya, ini didatangkan khusus. Tugas ini perlu pengalaman yang mumpuni, tapi bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan ada adik siswa yang berlatih menjadi jagal setelah menyaksikan proses penyembelihan qurban secara langsung.



Setelah berlebaran bersama keluarga di rumah masing-masing, sore harinya adik-adik kembali ke asrama untuk mempersiapkan proses pemotongan daging qurban yang akan dilaksanakan esok hari di asrama. Ini adalah kegiatan yang dinanti-nantikan setiap tahunnya. Pengalaman berbagi yang sungguh mengesankan.


Sebanyak 2 ekor sapi dan seekor kambing yang disembelih. Kita intip yuk pelaksanaan pemotongan hewan qurban di asrama Sekolah Alam Le Cendekia…

 

Proses penyembelihan hewan qurban oleh tenaga berpengalaman.

Menguliti kulit kambing tentu perlu keahlian khusus, hati-hati dagingnya ikut terpisah…


Area penimbangan sekaligus belajar berat daging yang pelu dibagi.

Area pemotongan kecil.

Area pengemasan. Setelah ditimbang, daging dikemas untuk siap didistribusikan.


Ada divisi menghias juga ternyata. Ini akan Menambah nilai lebih kepuasan memberi jika kemasan terlihat indah.

Daging qurban siap didistribusikan. Masya Allah. Pengemasan daging qurbannya sungguh ciamik ya. Dihias seperti hampers kekinian dengan hiasan rangkaian ilalang dan kartu ucapan. Rangkaian ilalang ini dikumpulkan dari halaman sekolah loh…


Wadah daging yang akan dibagikan sangat menarik perhatian minweb. Bentukannya berbeda-beda karena ini adalah hasil karya adik-adik bersama keluarga saat pulang ke rumah untuk lebaran. Macam-macam idenya sesuai syarat dan ketentuan dari kakak guru, yaitu terbuat dari bahan alam dan tidak dibeli. Ada yang dari anyaman daun pandan, daun pisang, daun kelapa, daun mangga, juga ada yang membuatnya dengan buah labu. “Biar sekalian jadi sop daging labu”, katanya.  Unik dan tidak ada lagi sampah plastik dari pendistribusian daging ini.

Alhamdulillah.

Daging-daging dengan kemasan menarik hati kemudian dibagikan ke rumah warga di sekitar asrama.

 


Alhamdulillah, saatnya menikmati olahan masakan daging qurban. Semoga lelah-lelah hari ini mendapat berkah dan terhitung pahala disisi Allah.

Terima kasih atas kerja ikhlasnya adik-adik!

0

Artikel, Lates News, Student Corner

Siapa bilang hanya negara yang butuh wakil rakyat? Di sekolah, tempat anak belajar bermasyarakat pertama kali tentu butuh wakil yang dapat mewakili aspirasi dan membantu penyelesaian masalah yang kerap terjadi antar siswa dan warga sekolah yang lain.


Di Le Cendekia, kami menyebutnya wakil siswa. Mereka dipilih secara langsung oleh seluruh warga sekolah. Tugas utama wakil siswa ini sendiri adalah menyampaikan aspirasi siswa kepada kakak guru, menjadi jembatan informasi dari kakak guru ke teman siswa yang lain, termasuk memandu pelaksanaan rapat besar se-warga  Le Cendekia yang dikenal dalam agenda Le Share n Care.

 

Telah berlangsung Pemilu Raya se-LC pada hari Kamis, 15 Juli 2021 untuk memilih wakil siswa periode tahun ajaran 2021-2022. Sebanyak 10 siswa menjadi kandidat wakil siswa dalam pemilihan ini, ada yang dicalonkan teman juga ada yang mencalonkan dirinya sendiri. Ya, mereka bisa mencalonkan dirinya sendiri untuk dipilih, tanda adik-adik percaya akan kemampuannya menjadi wakil siswa. Bahkan, pada Pemilu kemarin, ada salah seorang adik siswa yang mengaku menyesali dirinya saat SD tidak berani mencalonkan diri karena merasa malu. Saat ini ia berhasil menjebol tembok rasa malunya. Proud!



Para calon wakil siswa ini masing-masing memaparkan visinya jika terpilih sebagai wakil siswa sebagai pertimbangan bagi warga untuk memilihnya. Ada yang ingin menciptakan LC yang lebih baik, menjadi contoh yang baik,mengakui dirinya telah berpengalaman, akan berlaku adil, dan ada juga yang ingin mencari pengalaman baru. Pengalaman sebagai wakil siswa tentu tidak akan terlupakan ya, siapa yang tahu akan ada juga yang akan menjadi wakil rakyat nanti.

Pemilu raya ini berlangsung semi daring karena sebagian warga masih belajar di rumah. Salah seorang kandidat bahkan mengenalkan dirinya melalui video call. Siswa yang masih belajar daring di rumah memenuhi hak suaranya melalui chat whatsapp. Kakak guru, staf, dan tim juga mendapat hak suara loh. Bagi yang sedang tidak berada di asrama, juga memenuhi hak suaranya melalui pesan teks. Adik spesial pun ikut memilih dibantu oleh kakak guru pendamping khusus. Semua memilih.

Adik Siswa Spesial Memilih Dengan Bantuan Pendamping

 

Hebat sekali para kandidat wakil siswa Le Cendekia ini, saat perhitungan suara berlangsung, mereka duduk berdekatan. Seperti saling mendukung satu sama lain dan ikhlas atas apapun hasil akhirnya. Mereka tahu, mereka bukan bersaing. Mereka paham, mereka sedang belajar.


Akhirnya terpilihlah 5 wakil siswa yang akan menjalankan amanah ini dengan penuh dedikasi. Wakil siswa dengan jumlah pemilih terbanyak dicalonkan oleh teman-temannya, bahkan yang bersangkutan tidak hadir di tempat pemilihan. Selamat menempa diri sebagai wakil dari teman-temanmu, adik-adik! Semoga dengan tanggung jawab yang diemban ini menjadi jalan tumbuhnya pemimpin-pemimpin terbaik umat Islam dan Indonesia di masa depan. Paling penting, menjadi pemimpin yang baik bagi diri sendiri sebagai hamba Allah. Barakallahu fiikum.


0

Event, Lates News

“Hectic! Tapi terharu dan bangga bisa membersamai adik-adik berwirausaha lagi setelah vakum sekian purnama”, Kak Ria, kakak guru pendamping program terharu, akhirnya Home Economy sebagai program paling ditunggu oleh setiap warga Le Cendekia digelar kembali.

Program Home Economy telah bermetamorfosis dari yang awalnya belajar memanfaatkan bahan yang tidak terpakai menjadi suatu alat yang memiliki daya guna dan daya jual. Kemudian adik siswa belajar mencampur bahan-bahan makanan yang mudah didapat kemudian mengolahnya lalu mencicipi bersama hingga menjajakan ke tetangga. Berawal saat Market Day Rumah Sekolah Cendekia, program ini menjadi cukup terkenal dengan Le Cafe n Shop di kalangan tetangga dan adik-adik SD. Untuk melebarkan pasar, kakak guru mengajak adik-adik memperkenalkan diri ke pasar Car Free Day dihari Minggu.

Setelah pindah ke gedung sekolah di Pakkatto, satu semester program Home Economy mengambil jeda. Kemudian merambah menjadi toko kecil yang buka setiap hari Jumat dengan menjual hasil tangan siswa dan orang tuanya di gedung sekolah yang lama, Kompleks Ruko Citra Garden. Sekarang tokonya menjalin kerja sama dengan Peace Cream, sebuah gerai es krim. Hingga inovasi terbaru untuk terus menumbuhkan semangat bermuamalah bagi seluruh warga dengan membuka Le Shop di area asrama untuk memenuhi kebutuhan adik di asrama.

Le Shop dibuka setiap dua pekan sekali di hari Ahad. Adik-adik siswa dan kakak guru begitu semangat setiap kali Le Shop akan dibuka. Terbukti saat Le Shop perdana dibuka kembali, total 5 tenant yang ikut serta dan bertambah pada pekan selanjutnya menjadi 8 tenant. Begitu pula dengan variasi produk yang ditawarkan.

Produk yang ditawarkan secara umum adalah makanan. Namun ada juga adik siswa yang menawarkan jasanya. Dialah adik Syauqi, menawarkan jasa foto bermodal kamera serta kemampuannya menjepret gambar juga mengedit foto. Saat ditanya kesannya, Ia bercerita, “Awalnya saya bingung mau jualan apa, terus semakin mendekati hari H jadinya kepikiran ‘jual hobi’ saja deh. Sempat pesimis apa bakal ada yg mau di foto? Tapi Alhamdulillah ada Thariq yg menjadi org pertama yg meminta jasa saya, lalu akhirnya teman-teman yg lain jadi ikutan juga. Saya jadi senang. Hobi saya bisa menghasilkan uang.”

Kami berharap, program Home Economy bertajuk Le Shop ini terus mengantarkan adik-adik siswa juga seluruh warga Le Cendekia untuk meraup banyak manfaat dari berdagang sebagaimana yang dicontohkan Rasullulah. Perlu diketahui, omzet penjualan salah satu tenant dalam satu kali pasar bahkan mencapai Rp 900.000,-.

“Seru. Senang melihat jualan bisa terjual habis padahal awalnya tidak menyangka krn harganya yang mungkin agak mahal. Next time mau jualan lagi. Ternyata dapat uang dari hasil usaha sendiri itu menyenangkan,” kesan adik Ali, kelas 7.

Kini, ada yang berbeda dalam pelaksanaan Le Shop. Uang yang digunakan untuk berbelanja bukan berbentuk uang rupiah asli yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, melainkan oleh Bank Le Cendekia. Jadi, sebelum berbelanja, kita harus  menukarkan uang di Money Changer LC terlebih dahulu.

Penggunaan uang ini bertujuan melatih siswa mengikuti aturan/ prosedur, belajar disiplin, mengetahui jumlah uang yang beredar di area pasar, juga mengantisipasi ketiadaan pecahan uang kecil yang sangat terbatas di pasar muamalah.

Alhamdulillah. Satu aktifitas ini banyak sekali tujuan dan proses belajar yang diharapkan. Semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan dalam setiap proses yang dijalani siswa, serta seluruh warga belajar Le Cendekia.

0

Artikel, Lates News

Hari libur sekolah dimanfaatkan dengan baik oleh tujuh siswa Le Cendekia bersama siswa Sekolah Alam lainnya dengan jalan-jalan ke luar negeri secara virtual. Mereka berkumpul dalam aplikasi zoom, mendengar kisah seorang teman muslim yang bermukim di Toronto, Kanada.


Sekolah Alam Indonesia dalam event English Sharing Session mengadakan diskusi bertema “Living as Moslem in Florida USA and Toronto Canada”. Event ini bertujuan untuk melatih keterampilan mendengar dan berbicara dalam Bahasa Inggris para pesertanya.


Pembicaranya adalah Sister Aifa, ia bersekolah di Toronto. Aifa menceritakan kehidupannya sebagai seorang muslimah di Toronto dan Florida, terutama saat Ramadhan tiba.


Saat sesi tanya jawab, Annisa, salah seorang siswi Le Cendekia yang mengikuti seminar ini, menanyakan secara langsung perihal bagaimana kehidupan muslim di Toronto terutama dalam hal berhijab bagi perempuan. Adik-adik siswa Le Cendekia lainnya juga turut memberikan sejumlah pertanyaan dalam kolom obrolan zoom dalam berbahasa Inggris.


Alhamdulillah, selain melatih kemampuan speaking dan listening, adik-adik siswa juga melatih keberanian dan kepercayaan dirinya.Tujuh Siswa Le Cendekia Ke Luar Negeri.


Hari libur sekolah dimanfaatkan dengan baik oleh tujuh siswa Le Cendekia bersama siswa Sekolah Alam lainnya dengan jalan-jalan ke luar negeri secara virtual. Mereka berkumpul dalam aplikasi zoom, mendengar kisah seorang teman muslim yang bermukim di Toronto, Kanada.


Sekolah Alam Indonesia dalam event English Sharing Session mengadakan diskusi bertema “Living as Moslem in Florida USA and Toronto Canada”. Event ini bertujuan untuk melatih keterampilan mendengar dan berbicara dalam Bahasa Inggris para pesertanya.


Pembicaranya adalah Sister Aifa, ia bersekolah di Toronto. Aifa menceritakan kehidupannya sebagai seorang muslimah di Toronto dan Florida, terutama saat Ramadhan tiba.


Saat sesi tanya jawab, Annisa, salah seorang siswi Le Cendekia yang mengikuti seminar ini, menanyakan secara langsung perihal bagaimana kehidupan muslim di Toronto terutama dalam hal berhijab bagi perempuan. Adik-adik siswa Le Cendekia lainnya juga turut memberikan sejumlah pertanyaan dalam kolom obrolan zoom dalam berbahasa Inggris.

Bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional menjadi salah satu keterampilan yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa kami. Di Le Cendekia, diadakan English Day yang dilaksanakan dihari-hari tertentu. Tentunya untuk melatih siswa meningkatkan keterampilan berbahasa inggrisnya dengan baik dan percaya diri.


Adanya event yang diadakan oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) ini menjadi wadah bagi siswa kami untuk terus berlatih. Kami tentu juga sangat bersyukur telah mendapat kesempatan bergabung pada kegiatan yang diinisiasi oleh siswa jenjang kelas VII SAI. Sekolah Alam Indonesia ini merupakan sekolah alam pertama di Indonesia yang kini sekarang tersebar di beberapa kota di Indonesia.


Sekolah Alam Le Cendekia baru menginjak tahun ke 4 -nya. Kami berharap bisa terus bersinergi bersama jaringan sekolah-sekolah alam di Indonesia dalam ikhtiar mewadahi pendidikan anak Indonesia.

0

Lates News

Pendidikan inklusif makin dibutuhkan keberadaannya di tanah air seiring dengan makin bertambahnya anak-anak yang dikategorikan termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK).

Apa itu pendidikan inklusif? Pendidikan Inklusif adalah sistem layanan pendidikan di mana siswa yang memiliki kondisi khusus dapat dilayani di sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya.  Sekolah inklusi adalah istilah yang diberikan kepada sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif, karena setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak sebagai pelayanan dasar yang wajib diberikan kepada warga Negara tanpa kecuali.

Sekolah Alam Le Cendekia Gowa yang berdiri  sejak empat tahun lalu (tahun 2017) pada awalnya belum menerima siswa kategori khusus (ABK). Saat ini, Le Cendekia Gowa, boleh jadi adalah satu-satunya sekolah berasrama yang secara khusus memberikan layanan bagi ABK. Keputusan untuk menerima siswa berkebutuhan khusus, menjadi sekolah inklusi, diambil setelah melihat jumlah ABK yang membutuhkan sekolah lanjutan juga makin bertambah secara signifikan.  Konsekwensinya, Le Cendekia Gowa mesti menyiapkan tenaga guru khusus yang akan menangani pendidikan para siswa istimewa ini.

Menerima siswa ABK di sekolah yang menerapkan sistem berasrama, tentunya memerlukan kesiapan yang berlipat ganda. Bukan hanya dari kesiapan sarana dan prasarana, namun juga ketersediaan tenaga pengajar yang memenuhi syarat, dalam arti memiliki kualifikasi pengetahuan yang sesuai. Rasa tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam upaya memberikan hak belajar yang sama kepada anak-anak istimewa ini, membuat Le Cendekia Gowa serius mencari guru yang kualified bagi siswa-siswa ABK yang terus bertambah.

Bagaimana model pengajarannya?

Saat calon siswa mendaftarkan diri untuk bergabung di Le Cendekia Gowa, maka seluruh siswa akan mengikuti test MIR (Multiple Intellegences Research). Test ini bertujuan untuk mengetahui gaya belajar serta potensi unggul yang dimiliki setiap siswa, agar guru bisa menentukan cara mengajar yang tepat. 

Siswa yang terdeteksi membutuhkan stimulasi khusus,  selanjutnya akan mengikuti assessment psikologi oleh tenaga professional untuk menentukan model pembelajaran yang dibutuhkan oleh masing-masing siswa yang meliputi,  pengajaran langsung, pengajaran bertahap, latihan motorik, permainan edukatif, serta modeling.

Secara umum seluruh model pembelajaran tersebut bertujuan untuk melatih kemandirian anak dan mengembangkan secara maksimal kemampuan siswa dalam hal bahasa, sosial dan emosional, motorik, perkembangan perilaku dan perkembangan akademik. Mereka mendapatkan pelayanan khusus di kelas tersendiri secara terjadwal. Di luar jam pelayanan khusus tersebut, mereka tetap berbaur dengan siswa di kelas regular.

Ibu Nurbaya Ubay, salah seorang dari orangtua siswa spesial Le Cendekia Gowa yang telah bergabung selama setahun, mengungkapkan kegembiraannya. “Saat awal masuk, kami masih cemas apakah anak kami bisa beradaptasi, namun setelah beberapa waktu, ia bahkan bisa menyiapkan keperluan asramanya sendiri. Sekarang komunikasinya sudah dua arah, meskipun kata-katanya masih terbatas. Ananda juga semakin mandiri, bahkan bisa memasak untuk diri sendiri juga untuk kakak dan adiknya.”

Bagi orangtua siswa, memasukkan putra putri mereka ke dalam sekolah berasrama, hal yang jadi prioritas adalah keamanan dan kenyamanan putra putri mereka saat berada di dalam. Sistem yang dibangun di Le Cendekia Gowa, berupaya keras memberikan layanan tersebut dan terutama didukung oleh siswa siswi yang memiliki kepedulian yang besar kepada kawan-kawan mereka.

Untuk memberikan layanan maksimal kepada para siswa, baik siswa regular maupun siswa ABK, Le Cendekia Gowa menerima siswa ABK dalam jumlah yang terbatas, yakni maksimal 10% dari kapasitas siswa regular, dengan persyaratan tertentu, yakni telah tuntas pemahaman aktivitas primer (toilet, makan dan berpakaian).  Keberadaan sekolah inklusi berasrama ini, semoga turut memberikan solusi bagi para orangtua yang memiliki putra putri berkebutuhan khusus.

0

Ada yang baru nih di jadwal belajar siswa Sekolah Alam Le Cendekia bulan ini. Jadwal belajar keterampilan pada siang hari bertambah, yaitu PKBM Fotografi. Zaman sekarang, keterampilan fotografi tentu penting untuk dipelajari sebagai bekal tambahan bagi adik siswa.

Pada pertemuan pertama, adik siswa diperkenalkan dengan jenis-jenis fotografi serta fungsi pencahayaan saat mengambil gambar kemudian praktik macro fotografi dan mengambil foto pemandangan di halaman asrama sekolah yang berlokasi di Desa Pakatto Caddi, Kabupaten Gowa.

Program kelas keterampilan ini juga diharapkan bisa menjadi titik awal karir apa yang hendak didalami oleh generasi pemakmur bumi Allah ini. Dengan ikut kelas fotografi, siapa tahu nanti akan lahir fotografer profesional dari siswa Sekolah Alam Le Cendekia. Insyaallah, kakak guru berharap semua ilmu dan pengalaman yang diberikan bisa bermanfaat untuk mereka.
0

Lates News
Selain memanen tanaman yang ditanam sendiri di kebun sekolah, hari ini adik siswa memanen cairan ajaibnya. Cairan ajaib ini berhasil membuat adik siswa takjub. Hasil fermentasi kulit buah dan gula yang direndam selama kurang lebih 3 bulan di dalam air, ternyata beraroma harum dan bermanfaat sebagai pengganti deterjen, sabun, sampo, pembersih lantai dan kaca, juga bisa menyuburkan tanaman serta menjadi pestisida alami.

Bulan Agustus lalu, dimentori oleh kak Asdi, pengampu kelas Pendidikan Lingkungan Hidup dan program Ketahanan Pangan, adik siswa diajak untuk membuat cairan Eco-Enzyme dengan memanfaatkan limbah kulit buah dari rumah masing-masing. Hingga hari ini tibalah waktunya untuk memanen cairan ajaib yang tentu membuat adik siswa penasaran menanti hasilnya selama 3 bulan. 

Setelah dipanen, cairan ajaibnya dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman serta membersihkan jendela. Alhamdulillah, bahkan limbah yang biasanya langsung dibuang pun menjadi bermanfaat. Semoga pengalaman berharga ini terus bisa dimanfaatkan adik-adik siswa, juga keluarga di rumah.

0

Virus  Covid-19 telah mewabah di Indonesia kurang lebih 8 bulan lamanya. Sekolah Alam Le Cendekia memulai kembali aktivitas pembelajaran secara langsung di asrama. Orang tua dan siswa yang memilih belajar secara langsung, disambut di asrama dengan syarat sehat dan aman dari kontak langsung penderita COVID-19 serta tetap di rumah selama 14 hari atau menyetorkan surat bukti hasil pemeriksaan swab PCR negatif.

Tentu, tidak semua siswa memilih belajar langsung di asrama. Bagi siswa dan orang tua yang memilih tetap belajar daring di rumah saja, sekolah memfasilitasi dengan blended class. Kakak guru yang mengajar langsung di kelas juga disaksikan langsung oleh adik siswa di rumah melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting. Begitupun aktivitas bersama lainnya, seperti kajian malam dan malam evaluasi Le Share and Care.

Aktivitas new normal di asrama tetap mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 tentu dengan tetap memakai masker, mencuci tangan setelah beraktivitas, menjaga jarak, serta ruang kelas dipindahkan ke ruang belajar terbuka. Untuk menjaga kebugaran fisik, diadakan senam sehat di pagi hari yang diikuti oleh semua warga belajar.
Aktivitas berkebun dan beternak juga tetap berlangsung. Bahkan, sayuran dan buah-buahan yang diolah menjadi lauk sehat untuk disantap bersama berasal dari hasil kebun Le Cendekia. Alhamdulillah.

Berbeda dengan aturan berasrama sebelum pandemi yang mewajibkan adik siswa berasrama dari hari Ahad kemudian dijemput hari Jumat sore, saat ini adik siswa berasrama selama satu bulan kemudian pulang untuk belajar daring di rumah dengan tetap menjaga kontak dengan orang luar agar tetap aman kembali berasrama sepekan kemudian. Tentu akan menjadi pengalaman baru bagi adik-adik juga orang tua yang saat ini memilih belajar langsung di asrama. Semoga tetap dikuatkan hatinya demi hal-hal baik yang menanti di masa depan.
0

Satu hari lagi, kami akan menyambut adik-adik siswa untuk belajar di sekolah kembali. Sebagai sekolah berasrama, Tim Le Cendekia merasa tak kesulitan menyiapkan pembelajaran luring kembali di tengah Pandemi Covid-19 ini. Tentu, mesti disertai persiapan yang matang agar pelaksanaan pembelajaran benar-benar sesuai dengan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19.

Persiapan pertama dan utama yaitu penyusunan panduan Penerimaan Siswa Belajar Luring di Asrama yang mengatur mulai dari proses pengantaran dan penyambutan siswa di asrama, pelaksanaan pembelajaran blended learning (daring dan luring), aktivitas keseharian di asrama, hingga proses penjemputan siswa kembali oleh orang tua masing-masing.
Sebelum belajar kembali di asrama, seluruh adik siswa juga tim guru dan staf diwajibkan memastikan dirinya bebas dari penularan virus Covid-19 serta gejala penyakit yang dapat menimbulkan penyebaran meluas di asrama nantinya. Seluruh adik siswa wajib stay at home selama 14 hari sebelum masuk asrama atau menyetorkan surat pernyataan hasil pemeriksaan swab negatif.

Hari Ahad, 18 Oktober 2020, kakak guru menanti kehadiran adik-adik yang sehat untuk memulai aktivitas di asrama hingga satu bulan ke depan. Tentu akan menjadi pengalaman pertama boarding di Le Cendekia bagi adik-adik siswa kelas VII dan menjadi pengalaman yang dirindukan bagi adik-adik siswa kelas VIII dan kelas IX.
Sampai jumpa di asrama, adik-adik.

Sampai bertemu pada kabar berita pelaksanaan pembelajaran di Sekolah Alam Le Cendekia, readers!
0